Yuk, Saatnya Evaluasi Keuangan Sebelum Tutup Tahun 2017!

SEBELUM berganti tahun, saatnya kita evaluasi keuangan sepanjang 2017. Apakah kondisi finansial semakin membaik atau malah lebih buruk? Yuk, mengevaluasi keuangan demi masa depan lebih cerah.

Dalam hitungan dua pekan, kita akan menyambut pergantian tahun 2018. Banyak orang mulai sibuk memikirkan resolusi tahun baru, mulai dari resolusi kesehatan, resolusi karir sampai resolusi keuangan. Memiliki resolusi bisa memberikan kita motivasi lebih kuat agar bisa menjalankan 2018 dengan lebih terarah sesuai harapan.

Namun, sebelum membuat resolusi tahunan, ada baiknya kita melangkah mundur sedikit untuk melakukan evaluasi. Khusus untuk kehidupan finansial pribadi, akan lebih baik bila kamu menggelar evaluasi keuangan tahunan sebelum melangkah menyusun resolusi keuangan.

Baca juga: 7 Resolusi Finansial yang Perlu Kamu Timbang untuk 2018

Melalui evaluasi keuangan tahunan, kamu bisa mengetahui dengan obyektif kondisi finansial sepanjang tahun ini. Dari sana, kamu bisa melihat apa capaian yang berhasil teraih, apa yang gagal, apa penyebab kegagalan, dan lain sebagainya. Dengan demikian, kamu bisa menyusun target-target baru untuk tahun depan.

Berikut ini langkah-langkah evaluasi keuangan yang perlu kamu tempuh yang berhasil Halomoney rangkum:

1. Evaluasi neraca keuangan

Bila kamu selama ini rajin mengisi informasi di laporan keuangan pribadi, memperbarui data neraca keuangan adalah hal mudah. Kamu tinggal mengisinya dengan informasi terakhir kondisi kekayaan. Tapi, bagaimana bila selama ini belum punya neraca keuangan? Tidak perlu khawatir.

Mulailah dengan mendaftar aset. Ada beberapa jenis aset yang perlu kamu update informasinya. Pertama, aset likuid. Antara lain, tabungan, deposito, simpanan emas logam mulia, reksadana pasar uang. Juga, uang kas di tangan.

Kedua, aset investasi. Isilah nilai terakhir aset investasi yang kamu miliki misalnya di aset berupa reksadana, saham, obligasi, sukuk, properti, dan lain-lain. Bila kamu memiliki barang koleksi yang memiliki nilai, seperti lukisan atau koleksi kain berharga, perlu juga tulis informasinya. Ketiga, aset guna. Termasuk di sini adalah rumah dan mobil yang kamu gunakan, perhiasan yang kamu kenakan, dan sejenisnya.

Setelah kelompok aset sudah kamu isikan informasinya, jangan lupa pula memperbarui informasi jumlah kewajiban atau beban utang. Untuk kelompok kewajiban, kamu bisa membedakan menjadi dua kelompok berdasarkan jangka waktu. Misalnya, kewajiban jangka pendek seperti utang kartu kredit, utang pembiayaan di kantor yang jangka waktu cicilannya di bawah setahun. Kelompok kedua adalah kewajiban jangka panjang seperti sisa utang kredit rumah, beban utang cicilan mobil, dan utang-utang lain yang kamu tanggung.

Nah, dari dua kelompok informasi tersebut yaitu aset dan kewajiban, kamu bisa melihat berapa nilai kekayaan bersih. Selisih antara jumlah aset dan jumlah kewajiban itulah nilai kekayaan bersih yang kamu miliki. Dari sini pula kamu bisa menilai, apakah angkanya defisit atau surplus? Bila defisit, berarti kondisi keuangan kamu perlu perhatian serius akibat menanggung terlalu banyak kewajiban utang.

2. Evaluasi arus kas

Bagaimana kondisi arus kas kamu sepanjang tahun 2017 ini? Evaluasi arus kas akan sangat mudah bila selama ini kamu sudah memiliki catatan arus masuk dan arus keluar pendapatan. Dari 12 bulan selama 2017, apakah kamu masih sering menderita defisit bulanan? Atau, sering surplus tapi nilai surplus tersebut justru habis semata untuk kegiatan konsumtif?

Bila masih sering terjadi defisit, kamu bisa mengecek lebih jauh apa penyebab defisit yang kerap terjadi? Jangan-jangan, defisit terjadi akibat sering muncul pengeluaran tak terduga atau pengeluaran yang seharusnya dibiayai dengan pendapatan tahunan?

Kamu juga bisa melihat pos-pos mana saja yang rentan kebocoran dan membuat pengeluaran bengkak. Dari sini kamu bisa menyusun strategi, bagaimana agar tahun depan defisit bisa dikurangi bahkan dihilangkan. Apakah dengan menghemat pos-pos pengeluaran pribadi? Atau, memproyeksikan tambahan pendapatan dengan merintis bisnis sampingan sehingga defisit tidak lagi terjadi.

3. Evaluasi utang

Memiliki utang bukan masalah besar selama kita menjaga rasionya sesuai kemampuan finansial. Sebagai evaluasi, kamu perlu juga mengecek berapa total nilai utang yang kamu tanggung, apa saja jenis utang baru yang kamu ambil tahun ini, utang apa yang bisa kamu percepat pelunasannya, dan lain sebagainya.

Cobalah mengecek lagi, mulai dari utang kartu kredit, kredit tanpa agunan, utang KPR, kredit kepemilikan mobil, dan jenis pinjaman lain yang mungkin kamu miliki.

Yang terpenting, kamu perlu memastikan rasio utang yang kamu tanggung masih masuk dalam batas aman. Debt service ratio atau rasio kemampuan pelunasan utang bisa kamu hitung dengan membagi antara total beban cicilan utang per tahun atau per bulan dibagi dengan nilai pendapatan per tahun atau per bulan.

Untuk mendapatkan angkanya, kamu perlu menghitung lebih dulu total pendapatan selama setahun ini. Pendapatan termasuk gaji bulanan, bonus, insentif, dividen, dan lain-lain. Mengacu prinsip pengelolaan keuangan yang sehat, kamu perlu menjaga angka debt service ratio maksimal di angka 35%, tidak boleh melebihi angka itu.

Sebagai gambaran, setiap bulan beban cicilan yang kamu tanggung mencapai Rp 4 juta. Sedangkan jumlah pendapatan rutin bulanan adalah Rp 7 juta. Dengan demikian, debt service ratio keuangan kamu adalah Rp 4 juta/Rp 7 juta= 58%.

Angka itu melampaui batas 35%. Dengan kata lain, kemampuan pelunasan utang kamu termasuk buruk karena beban utang saja memakan 58% pendapatan rutin kamu. Maka itu, menjadi penting bagi kamu untuk mengambil langkah menurunkan beban utang. Apakah itu dengan menjual aset untuk melunasi sebagian utang lebih cepat, melakukan refinancing atau menambah penghasilan.

4. Evaluasi rencana keuangan

Setiap tahun idealnya kita memiliki rencana atau tujuan keuangan. Misalnya, rencana dana pembelian rumah, rencana dana pendidikan anak, rencana dana pensiun, rencana dana renovasi rumah, dan lain sebagainya.

Di akhir tahun seperti ini, kamu bisa memanfaatkan waktu untuk mengevaluasi perkembangan rencana keuangan. Apakah realisasi pertumbuhan dana yang kamu investasikan sudah sesuai proyeksi hitungan awal? Bila ternyata tidak sesuai proyeksi hitungan, bagaimana tindakan terbaik, apakah perlu mengalihkan ke produk lain yang proyeksi return-nya lebih menjanjikan?

Atau, sebaliknya, apakah ada rencana keuangan yang berhasil selesai lebih cepat. Misalnya, kamu menargetkan tahun 2017 berhasil mengumpulkan dana uang muka pembelian rumah senilai Rp 80 juta. Menginjak Desember ini, dana yang kamu kumpulkan sudah mencapai angka tersebut, maka sebaiknya kamu langsung mengamankannya di instrumen yang aman serta likuid seperti deposito bank.

5. Evaluasi penghasilan

Setiap menerima gaji, kamu tentu menerima slip gaji berisi informasi nilai gaji. Bila kamu rajin mendokumentasikan slip gaji, kamu bisa dengan mudah mengetahui total nilai penghasilan selama setahun terakhir. Begitu juga bila ada bonus-bonus di luar gaji rutin. Bisa juga dengan mengecek mutasi rekening payroll.

Dengan mengetahui nilai penghasilan selama setahun terakhir, kamu bisa membuat proyeksi target penghasilan tahun depan. Jangan lupa membandingkannya dengan tingkat inflasi, ya. Ini juga berkaitan dengan penyusunan rencana keuangan tahun depan. Dengan nilai pendapatan setahun ini dan proyeksi pertumbuhan tahun depan, berapa yang bisa kamu sisihkan untuk berinvestasi sesuai rencana keuangan.

6. Hitung indikator kesehatan keuangan

Setelah data-data utama keuangan sudah ada, kamu bisa mudah mengukur kesehatan finansial. Selain mengukur rasio utang seperti yang telah dibahas di atas, ada beberapa rasio yang perlu juga dihitung untuk mengetahui tingkat kesehatan keuangan.

Pertama, rasio likuiditas. Likuiditas menggambarkan kemampuan sebuah aset diubah secara cepat dan mudah menjadi bentuk uang tunai. Dengan mengetahui rasio likuiditas ini, kamu bisa mengetahui seberapa besar kemampuan kantong kamu untuk membiayai pengeluaran berkelanjutan ketika di tengah jalan terjadi guncangan pendapatan, seperti PHK atau kematian.

Rasio likuiditas bisa kamu peroleh dengan membagi jumlah aset berupa kas atau setara kas dibagi dengan jumlah pengeluaran bulanan. Satuannya adalah bulan. Benchmark yang digunakan untuk rasio likuiditas adalah 3-6 kali besar pengeluaran bulanan.

Kedua, rasio tabungan. Pada prinsipnya yang dimaksud dengan tabungan adalah bagian dari penghasilan yang kamu sisihkan untuk persiapan kebutuhan di masa mendatang.

Cara menghitungnya adalah, nilai tabungan tahunan dibagi dengan jumlah pendapatan tahunan. Rasio ini bertujuan untuk menetapkan persentase yang idealnya kamu tabungkan setiap tahun atau setiap bulan. Angka minimal rasio tabungan adalah 10%, lebih besar lebih baik.

Ketiga, rasio solvabilitas. Rasio ini berguna untuk mengukur risiko kebangkrutan seseorang. Kondisi bangkrut adalah ketika seseorang memiliki utang melebihi jumlah total asetnya. Rasio solvabilitas bisa kita dapatkan dengan membagi antara nilai total kekayaan bersih dibagi total aset.

Misalnya, nilai total kekayaan bersih adalah Rp 1,62 miliar. Sedangkan nilai aset mencapai Rp 2,2 miliar. Maka, rasio solvabilitasnya adalah 73,5%. Berarti, masih ada kemampuan bertahan kendati terjadi penurunan nilai aset hingga 73,5%. Angka ideal rasio ini adalah minimal 50%.

Nah, itulah 6 langkah evaluasi keuangan akhir tahun yang perlu kita lakukan sebelum kalender berganti menjadi 2018. Semoga tahun depan, kondisi finansial kita bisa lebih baik.

Post Terkait