Tiga Calon Paket Direksi BEI 2018-2021 Siap Berebut Kursi? Simak Nama-Namanya

Tiga nama yang dikabarkan berebut kursi PT Bursa Efek Indonesia (BEI) telah menyiapkan pasukan.

Sejumlah nama telah ‘dicatut’ oleh Tito Sulistio, Laksono Widodo, dan Inarno Djajadi untuk menjadi pendamping dalam kepemimpinan BEI periode 2018-2021.

Bisnis.com mendapatkan komposisi nama-nama yang akan diusung oleh ketiganya. Kebanyakan bukanlah orang asing di pasar modal. Beberapa juga telah mencoba peruntungan dalam pemilihan direksi bursa periode sebelumnya. Justitia Tripurwasani salah satunya.

Perempuan yang kini meniti karier di Manulife Asset Manajemen ini pernah menjabat sebagai salah satu Direktur BEI masa bakti 2006-2009. Pada pemilihan 2015 silam, Justitia juga masuk ke dalam paket yang diusung oleh Ronald T. Andi Kasim.

Dalam pemilihan kali ini, Justitia masuk ke dalam paket Inarno. Nama lain yang juga masuk ke dalam paket Inarno adalah John Tambunan yang berasal dari Citigroup Sekuritas. John juga bukanlah orang baru. Pada pemilihan 2015 dia berada dalam satu paket dengan Justitia.

Orang lama yang juga digaet oleh Inarno adalah Zaki Mubarak, salah satu pejabat di Bosowa Sekuritas. Pada pemilihan sebelumnya, Zaki bergabung dengan dua nama di atas dalam paket Ronald T. Andi Kasim.

Inarno sepertinya memang ingin mengajak orang-orang berpengalaman dalam kabinetnya. Pertimbangan lain adalah karier dari orang-orang tersebut. Selain Justitia, Inarno juga mengajak nama lain yang juga berkarir di BEI. Dia adalah Yohanes Liaw.

Bagi pelaku dan pemerhati pasar modal, nama pria yang kini menjabat sebagai Kadiv IT BEI ini tidak asing lagi. Selain banyak pengalaman, Liaw juga pernah berkompetisi dalam pemilu bursa efek pada 2015 silam, yang tergabung dalam paket Samsul Hidayat.

Inarno sendiri saat ini menjabat sebagai salah satu Komisaris BEI, dan pernah menduduki posisi sebagai Komisaris Utama PT Kliring Penjamin Efek Indonesia (KPEI). Tentu, dengan semakin banyak nama yang pernah mengecap pengalaman di BEI maka pelaksanaan tugas akan semakin mudah.

Nama lain yang akan menemani ‘muka lama’ usungan Inarno itu adalah Anita yang merupakan Presiden Direktur Reliance Sekuritas dan Andy Saleh, Direktur Trimegah Sekuritas. Anita diketahui telah malang-melintang di dunia sekuritas nasional.

Perempuan ini mengawali karir sebagai supervisor di Kantor Akuntan Publik Prasetio Utama & Co. pada tahun 1997. Dia juga pernah meniti karier di PT Ciptadana Sekuritas, PT Trust Securities PT Andalan Artha Advisindo Sekuritas, dan menjadi orang nomor satu di PT Deutsche Sekuritas Indonesia.

Saat dimintai konfirmasi mengenai komposisi nama-nama tersebut, Inarno tidak memberikan jawaban. Pesan singkat yang dikirimkan Bisnis.com juga tidak ditanggapi.

Pesaing Inarno, yakni Laksono juga tak mau kalah. Direktur Mandiri Sekuritas ini telah mencatut sejumlah nama untuk dimasukkan ke dalam paket yang akan menemaninya dalam pemilihan direksi bursa.

Salah satu nama lama yang bakal menemani Laksono adalah Presiden Direktur PT Evergreen Capital Rudy Utomo. Pada pemilihan sebelumnya, nama Rudy juga menjadi salah satu kandidat yang masuk ke dalam paket Ronald T. Andi Kasim.

Muka lama yang kembali diajak oleh Laksono adalah Kadiv Pencatatan BEI Nyoman Yetna. Sama dengan Rudy, Yetna pada pemilihan sebelumnya juga maju sebagai calon direksi bursa bersama paket yang dikomandoi oleh Samsul Hidayat.

Selain figur yang mengabdi di pasar modal, kabarnya Laksono juga akan mengajak individu yang berkarier di Otoritas Jasa Keuangan (OJK), yakni Fithri Hadi. Saat ini, dia menjabat sebagai Direktur Inovasi Keuangan Digital OJK.

Tuntutan perkembangan zaman tampaknya disadari betul oleh Laksono, sehingga membawa figur yang memahami teknologi finansial (tekfin). Namun nama Fithri masih tentatif, atau belum pasti bergabung dalam paket tersebut.

Tiga nama lain yang masuk dalam paket Laksono adalah Direktur PT Macquarie Capital Securities Indonesia Risa Guntoro, Direktur PT Mirae Asset Sekuritas Arisandhi Indrodwisatio, dan Direktur Dapen Pertamina Adrian Rusmana.

Arisandhi diketahui telah banyak berkarir di perusahaan sekuritas, diantaranya PT eTrading Securities, PT Daewoo Securities Indonesia, dan terakhir PT Mirae Asset Sekuritas. Kepada Bisnis, Arisandhi tidak bersedia untuk memberi penegasan.

“Anda pasti jauh lebih tahu, hehe..,” katanya kepada Bisnis.com, Selasa (20/3/2018). Tanpa menyebut salah satu nama, Arisandhi hanya mengatakan bahwa nama-nama yang telah masuk ke dalam komposisi calon direksi bursa itu adalah orang-orang yang ingin memberikan kontribusi lebih untuk industri pasar modal.

Tak mau kalah, Tito selaku petahana juga dikabarkan telah menyiapkan paket. Salah satu nama yang masuk dalam paket tersebut adalah Direktur Utama KPEI Hasan Fawzi. Hasan memulai karier di PT Kliring Depositori Efek Indonesia, kemudian bergabung dengan KPEI, dan pernah berkantor di PT Penilai Harga Efek Indonesia.

Saat dihubungi Bisnis.com, Hasan tidak memberikan jawaban pasti mengenai kabar tersebut. Dia hanya tertawa dan mengucapkan kalimat, “belum. Nanti saya hubungi kembali,” ujarnya sembari langsung menutup sambungan telepon.

Nama dari internal yang kabarnya akan diboyong oleh Tito untuk maju sebagai Direktur Utama periode keduanya adalah Isharsaya Yoyok yang saat ini menjabat sebagai salah satu Kadiv di BEI. Figur internal lainnya adalah Chaerudin Berlian yang kini berposisi sebagai Direktur Keuangan dan Sumber Daya Manusia.

Nama-nama lain yang akan dibawa adalah para pelaku dan pemerhati pasar modal yang berkarier di MNC Kapital dan MNC Sekuritas. Dari MNC Kapital muncul nama Andrew Haswin dan Wito Mailoa. Andrew diketahui pernah berkarier di PT Kresna Sekuritas.

Figur berikutnya berasal dari PT MNC Sekuritas, yakni Susy Meilina. Susy sudah tidak asing lagi di dunia pasar modal. Perempuan ini pernah menjabat sebagai Ketua Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI) periode 2014-2017.

Sejauh ini, masing-masing calon memang masih malu-malu untuk menyatakan niatnya maju sebagai orang nomor satu di bursa efek. Hanya Tito yang telah menyatakan akan kembali maju dalam pemilihan.

Namun pria berkumis itu masih belum menentukan komposisi nama-nama yang akan menemaninya memimpin pasar modal selama 3 tahun mendatang. “Yang bisa saya ajak akan saya ajak, yang tidak ya tidak. Karena sudah ada yang dua kali,” katanya kepada Bisnis.com, baru-baru ini.

Post Terkait