Termasuk yang Mana Jenis Utang Anda?

Utang membuat kerja jadi semangat..!” mungkin itu ungkapan yang sering kita dengar. Memang benar dengan adanya utang kerjanya jadi lebih semangat supaya bisa membayar utang.

Utang adalah kewajiban yang harus dipenuhi bahkan ada ungkapan bahwa utang itu dibawa sampai mati. Mau tidak mau, punya atau tidak punya anda harus tetap membayar kewajiban anda untuk melunasi utang.

Dalam agama Islam memang membolehkan berutang, itupun dengan syarat dan hanya pada keadaan yang benar-benar sangat terdesak saja. Sebagaimana yang terjadi pada zaman Rasulullah SAW.

Beliau pernah tidak mau mensalatkan jenazah seseorang yang rupanya masih memiliki utang namun belum terbayar dan tidak ada meninggalkan sepeserpun harta untuk melunasinya. Sampai kemudian ada salah seorang sahabat yang bersedia menanggungkan utangnya, baru Rasulullah SAW mau menshalatkan jenazah tersebut.

Jika kita membahas mengenai utang yang baik dan buruk, kita akan berbicara mengenai penggunaannya, utang digunakan untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan. Bagaimana dengan anda?

Takut berutang atau utang sudah menjadi kebiasaan? Idealnya sih kita tidak mempunyai utang. Apabila kita bisa memanfaatkan utang dengan bijak, utang bisa menjadi salah satu cara untuk mencapai tujuan finansial kita.

Dalam ilmu perencanaan keuangan utang bukanlah sesuatu yang buruk. Utang dibagi menjadi 2 yaitu utang Produktif dan utang Konsumtif.

Utang produktif
Adalah utang yang dimanfaatkan untuk kegiatan produktif dan bisa menciptakan nilai tambah misalnya utang untuk modal usaha,laba dari usaha bisa digunakan untuk membayar cicilan utang.

Meskipun utang sudah lunas akan tetapi usaha terus berjalan. Contoh kedua adalah utang yang digunakan untuk menyicil KPR rumah. Kenapa cicilan KPR termasuk utang produktif? Karena rumah adalah salah satu jenis investasi jangka panjang dan dapat menambah aset kita yang mana nilainya semakin lama semakin naik.

Utang Konsumtif
Adalah utang yang tidak menambah nilai produktif dan untuk memenuhi kebutuhan konsumtif. Contohnya anda mengajukan pinjaman ke bank untuk cicilan membeli mobil. Membeli mobil hanya sekedar suka atau hobi otomotif saja.

Biasanya masyarakat menilai mobil adalah salah satu asset padahal mobil bukan termasuk dari aset karena nilai jual mobil semakin lama semakin menurun.

Apakah utang menjadi sangat menakutkan? Jawabannya iya bila kita tidak tahu aturan mainnya. Apa saja aturan yang harus diperhatikan dalam berutang?
1. Apabila berutang total utang anda janganlah lebih 30% dari penghasilan anda. Pada saat utang anda memasuki rasio lebih dari 30% itu tandanya cash flow keuangan anda tidak sehat.
2. Gunakan kartu kredit untuk memudahkan transaksi, gunakan juga promo-promo yang berlaku misalnya promo cicilan 0%. Sebelum menggesek atau menggunakan kartu kredit pastikan anda sudah mempunyai dana untuk membayar tagihan tersebut.

Bisakah utang konsumtif berubah menjadi utang produktf? Bisa saja iya misalnya kita kredit untuk membeli gadget. Dalam hal ini gadget termasuk utang konsumtif akan tetapi jika gadget digunakan untuk bekerja dan dapat menghasilkan uang maka bisa jadi berubah menjadi utang produktif karena labanya bisa digunakan untuk membayar cicilan gadget tersebut.

Kebanyakan yang terjadi adalah utang konsumtif lebih banyak dibandingkan utang produktif. Tawaran kartu kredit,diskon belanja,semuanya menggoda setiap orang untuk mengambil utang konsumtif yang belum tentu bisa menambah aset yang ada justru menyulitkan kehidupan anda.

Mungkin sepintas kita merasa dengan utang tersebut kita dapat dengan cepat mendapatkan barang yang kita idam-idamkan namun coba anda pertimbangkan lagi apakah anda membelinya memang benar-benar membutuhkannya atau hanya sekedar menginginkannya.

Janganlah kita memaksakan untuk memiliki barang yang belum tentu kita butuhkan apalagi penghasilan kita belum cukup untuk memiliki barang tersebut. Yang terpenting saat berutang produktif maupun utang konsumtif adalah bijak dan disiplin dalam membayar cicilannya.

Kesimpulannya adalah perbedaan utang produktif dan utang konsumtif bukan terletak pada jenis produknya akan tetapi terletak pada fungsinya.

Post Terkait