Target Pertumbuhan 5,4% Memang Sulit, tapi Bukan Mustahil

Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi 2018 bisa 5,4 persen. Target itu termuat dalam asumsi makro RAPBN 2018 yang dibacakan Presiden Joko Widodo dalam Sidang Paripurna DPR, Rabu (16/8).

Banyak pihak yang merasa pesimistis dengan target pertumbuhan itu. Apalagi pertumbuhan ekonomi semester I (Januari-Juni) tahun ini hanya mencapai 5,01 persen atau masih di bawah target APBN Perubahan 2017 yang dipatok pada angka 5,2 persen.

Dalam pandangan Direktur Program Institute for Development of Economics & Finance (INDEF) Berly Martawardaya, target pertumbuhan ekonomi 5,4 memang terlalu tinggi. Untuk menutup target pertumbuhan tahun ini saja maka perekonomian selama Juli-Desember harus tumbuh 5,4 persen.

Salah satu caranya adalah dengan menjaga harga-harga barang tetap stabil, sehingga konsumsi juga bisa terstimulus untuk naik. “Logistik dan distribusi harus semakin lancar sehingga tidak ada excess demand (permintaan berlebih, red) sembako,” ujarnya di kantor INDEF, Jakarta, Jumat (18/8).

Berkaca pada hal tersebut, lanjut Berly, sulit rasanya pemerintah bisa memenuhi target pertumbuhan ekonomi sebesar 5,4 persen pada 2018 mendatang. Meski demikian, dia tetap mendukung upaya pemerintah untuk mencapai target itu.

“Walaupun kita harus memberikan lampu senter terhadap asumsi makro khususnya di pertumbuhan dan inflasi. Pertumbuhan 5,4 persen walau tidak mungkin tapi juga bukan tidak bisa,” katanya.

Hanya saja, untuk mencapai target pertumbuhan 5,4 persen memang butuh kerja keras. Apalagi untuk mengejar target pertumbuhan 5,2 persen pada tahun ini saja sulit.

“Untuk mencapai 5,2 persen ekstra kerja keras tahun ini. Dari 5,01 ke 5,4 itu tinggi. Tahun depan apalagi walau nggak mungkin tapi tantangan berat,” pungkasnya.

Post Terkait