Target Kredit BI Tak Setinggi OJK, Ini Kata Agus Marto

Bank Indonesia (BI) memproyeksikan pertumbuhan kredit hingga akhir tahun kemungkinan tidak sesuai dengan target 8-10%.

Gubernur BI, Agus Martowardojo menjelaskan target pesimis tersebut karena jika dilhat pertumbuhan secara year to date masih di bawah 3%.

“Target pertumbuhan kredit masih 8-10%, mungkin yang disampaikan kemarin target tidak tercapai. Karena kalau dilihat year to date tumbuhnya masih di bawah 3%. Tetapi kita belum secara resmi mengubah target,” kata Agus dalam acara seminar internasional Central Bank’s Role in the macroprudential policy, di Hotel Indonesia Kempinski, Jakarta, Kamis (2/11/2017).

Dia menjelaskan masih lambatnya pertumbuhan kredit karena saat ini perbankan dan korporasi masih dalam tahap konsolidasi.

“Konsolidasi tersebut yang menyebabkan permintaan perusahaan untuk kredit masih rendah,” kata dia.

Kemudian perbankan juga masih melihat potensi ada portofolio rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) yang sedang disehatkan atau diperbaiki. Namun Agus menjelaskan, BI menyambut baik rasio NPL yang sudah kembali di bawah 3% secara gross.

“Tapi kami pahami jika perbankan membutuhkan upaya penyehatan cari portofolio kreditnya sehingga faktor demandagak rendah dan faktor perbankan yang ingin lebih hati-hati,” jelas dia.

Dia mengharapkan, hingga akhir tahun akan ada pergerakan pada permintaan kredit. Hal ini karena mulai membaiknya sektor komoditi, konstruksi, makanan dan minuman hingga industri pakaian yang sudah membaik.

“Secara umum kami melihat sistem keuangan terjaga dan sedang taraf pemulihan. Ini akan bagus karena 2017 mengarah pertumbuhan ekonomi antara 5,1-5,5%,” jelas dia.

Dari data BI pertumbuhan kredit perbankan berdasarkan jenis penggunaannya yakni kredit modal kerja (KMK) pada September 2017 tercatat Rp 1.123 triliun atau tumbuh 9,6% dibandingkan bulan sebelumnya yang tumbuh 7,3%.

Kemudian kredit investasi tumbuh 7,1% lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya 6,8%. Lalu kredit konsumsi tumbuh 11% tumbuh dibandingkan bulan sebelumnya. Pertumbuhan KMK didorong oleh pertumbuhan kredit yang disalurkan ke industri pengolahan 8,2% dan sektor perdagangan & restoran 6,9%.

Kemudian kredit konsumsi utamanya terjadi pada peningkatan kredit pemilikan rumah (KPR) yang mencapai Rp 393,8 triliun atau tumbuh 10,4%.

Post Terkait