Suku Bunga Belum Turun, Agus Marto: Gara-Gara Kredit Macet

Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo menilai bahwa industri perbankan perlu meningkatkan efisiensi, melalui penurunan Net Interest Margin (NIM). Dengan menekan tingkat NIM, maka dapat mendorong pertumbuhan angka penyaluran kredit.

“Memang perbankan dilakukan kajian oleh publik, perlu meningkatkan efisiensinya sehingga biaya overheadnya atau NIM-nya bisa dikecilkan,” ujarnya di komplek Masjd Baitul Ihsan Bank Indonesia, Jakarta, Jumat (1/9/2017).

Agus Marto menilai, angka pertumbuhan penyaluran kredit perbankan memang perlu ditingkatkan lantaran masih cenderung lambat. Oleh karena itu, bank sentral telah memberikan stimulus dengan menurunkan tingkat acuan suku bunga acuan bank sentral atau BI 7 Day Repo Rate menjadi 4,5%.

Harapannya, kebijakan ini segera mendapat respon positif dari sektor perbankan melalui penurunan suku bunga kredit dan suku bunga deposito. Dia menambahkan, penurunan di tingkat deposito ini pun lebih cepat dibandingkan suku bunga kredit.

Menurut Agus Marto, penurunan suku bunga 7 Day RR ini akan ditransmisikan ke suku bunga kredit dan suku bunga deposit dalam kurun waktu dua hingga tiga kuartal. Bunga kredit sendiri, hingga saat ini masih bercokol di rata-rata 11,5%.

“Karena kalau sampai terakhir, kalau suku bunga acuannya turun sampai 150 basis poin, untuk bunga kredit baru turun 75% dari 150 basis poin,” kata dia.

Agus mengungkapkan salah satu penyebab lambatnya penurunan suku bunga kredit adalah peningkatan kredit bermasalah atau Non Performing Loan (NPL). Meskipun kenaikannya tipis, namun hal ini dapat membuat bank sangat wasapada dalam mengelola portofolionya.

“Kami meyakini bahwa perbankan memahami untuk mendukung pertumbuhan ekonomi, kondisi yang selama ini membuat perbankan menjalani industri keuangan dengan sehat, akan direspon oleh mereka dengan menyesuaikan tingkat bunga kredit maupun DPK,” kata dia.

Post Terkait