Sri Mulyani: Beban Bunga Utang Turun Pasca RI Invesment Grade

Pengelolaan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang lebih baik pada tahun ini memberikan efek positif. Salah satunya adalah pemberian predikat investment grade yang sudah sangat lama ditunggu oleh pemerintah Indonesia.

Hal tersebut yang kemudikan mampu mengurangi beban bunga utang Indonesia, karena imbal hasil atau yield atas surat utang yang diterbitkan oleh pemerintah bisa lebih rendah dari sebelumnya.

“Saya melihat dari seluruh utang kita ada penurunan dari cost beban bunga karena kita mendapat investment grade, APBN kita dianggap stabil sehingga hampir seluruh surat utang kita turun bebannya hampir 150 bps,” kata Sri Mulyani di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (11/7/2017).

Sri Mulyani memastikan komitmennya untuk melanjutkan pengelolaan APBN yang kredibel. Termasuk soal utang, dengan batas defisit APBN 3% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan rasio utang tidak menyentuh 60% secara keseluruhan.

“Indonesia akan tetap menjaga utangnya untuk enggak lewati batas yang dianggap membahayakan ekonomi maupun keuangan negara. UU kita menyebutkan defisit enggak lebih 3% dan total kumulatif utang enggak lebih dari 60% dan kita saat ini defisit di bawah 3% dan total akumulasi utang pemerintah di bawah 30%,” paparnya.

Dari sisi utang jatuh tempo, Sri Mulyani juga meyakini bisa terkendali karena rata-rata di atas 8 tahun.

“Kalau ada utang jangka pendek dan jangka panjang itu harus bisa didanai dan pada saat jatuh tempo bisa dibayarkan dengan penerimaan negara. Kita juga berikan kepastian mengenai arah fiskal jangka panjang,” jelasnya.

“Artinya sebuah negara fiskalnya bisa saat ini sehat tapi kemudian dalam fiskalnya mengandung utang-utang jangka panjang, misal kita menjanjikan semuanya gratis enggak bayar. Itu bisa terjadi karena ada yang membayar dalam bentuk utang,” ujar Sri Mulyani.

Post Terkait