Simak! Ini Penyebab Deflasi 0,07% di Agustus 2017, Salah Satunya Harga Pangan Turun

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat sepanjang bulan Agustus 2017 terjadi deflasi sebesar 0,07%. Indeks harga konsumen ini lebih rendah dibandingkan bulan lalu yang tercatat terjadi inflasi sebesar 0,22%.

Menurut Kepala Badan Pusat Statistik Suharyanto, deflasi ini tidak terlepas dari penurunan harga pangan sepanjang bulan Agustus lalu. Utamanya adalah bawang merah, bawang putih, hingga sayuran.

“Ada beberapa komoditas seperti harga bawang merah dan bawang putih, dan kemudian yang mengalami penurunan seperti ikan segar dan sayuran,” ujarnya di Kantor Pusat BPS, Jakarta, Senin (4/9/2017).

Menurut Suharyanto, deflasi memang kerap terjadi setelah Lebaran. Hal ini juga terjadi pada tahun 2015 dan 2016 lalu.

“Tahun 2016 Lebaran pada Juli, 0,69%. Agustus langsung deflasi. Namun tahun 2015 lebaran Juli inflasi 0,93%, sebulan berikutnya masih inflasi, dan September baru deflasi. Pattern (pola) 2017 mirip 2015 di mana Lebaran Juli inflasi 0,69%,” kata Suharyanto.

Menurutnya, deflasi ini cukup menggembirakan karena turunnya harga pangan. Diharapkan, stabilnya harga pangan dapat dijaga jelang akhir tahun 2017 mendatang.

“Berdasarkan komponen, deflasi 0,07% tadi, berasal dari administered prices yang alami deflasi -0,48% dan harga volatile foods terkontrol sehingga deflasi,” ujarnya.

Berikut adalah penyebab deflasi dan keadaan harga bahan pangan hingga jasa sepanjang Agustus 2017:

1. Bahan Makanan

Deflasi: 0,67%

Andil: 0,14%

“Komoditas yang dominan sumbang deflasi adalah penurunan harga bawang merah yang cukup tinggi, turun -11,79″%dengan andil 0,07%. Bawang putih -0,05%. Ikan segar dan sayuran tomat dan cabe rawit 0,69%. Beberapa komoditas ini merupakan komoditas utama yang berikan andil terhadap deflasi,” ujar Suharyanto.

2. Makanan Jadi, Minuman Rokok dan Tembakau

Inflasi : 0,26%

Andil: 0,04%

“Andil terbesar diberikan oleh nasi dengan lauk pauk, rokok kretek, dna rokok kretek filter masing-masing 0,1%,” ungkapnya.

3. Perumahan, Air, Listrik, Gas, dan Bahan Bakar

Inflasi : 0,10%

Andil: 0,03%

Penyumbang terbesar adalah kenaikan upah tukang bukan mandor dan upah pembantu rumah tangga dengan andil 0,01%.

4. Sandang

Inflasi : 0,32%

Andil: 0,02%

Menurut Suharyanto, hanya ada satu komoditas yang berikan andil, yaitu emas perhiasan yang naik sebesar 0,01%.

5. Kesehatan

Inflasi : 0,2%

Andil: 0,01%

6. Pendidikan, rekreasi, olahraga

Inflasi : 0,89%

Andil: 0,07%

“Komoditas yang sumbang inflasi adalah uang sekolan SD dan SMA masing-masing 0,02%. Uang sekolah SMP dan rekreasi naik 0,01 persen. Kita sudah menduga hal ini, Juli sudah ada, dan September kemungkinan masih ada namun tak signifikan terutama sekolah swasta,” ujar Suharyanto.

7. Transportasi, komunikasi dan jasa keuangan

Deflasi: – 0,6%

Andil: – 0,1%

“Tarif angkutan udara kemarin waktu lebaran tinggi dan sekarang sudah normal. Bahkan ada penurunan -8,39% tarif angkutan udara,” ungkapnya.

Secara umum, tarif angkutan udara, bawang merah, bawang putih menjadi faktor pendorong terjadinya deflasi. Hal ini pun harus terus menjadi perhatian pemerintah jelang liburan Natal dan Tahun Baru.

Post Terkait