Simak! IHSG Bakal Dipengaruhi Data Perekonomian hingga Konflik Korea

Mengawali pekan pertama bulan Oktober 2017, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diproyeksikan bergerak ke zona hijau seiring dengan rilisnya data perekonomian nasional yang masih terkendali.

Vice President Research Department Indosurya Sekuritas William Surya Wijaya menjelaskan, data inflasi nasional pada September 2017 kemarin disinyalir masih akan berada dalam kondisi terkendali. Kondisi ini menjadi bekal positif untuk menjaga dan menopang pola pergerakan indeks hingga beberapa waktu mendatang.

“Untuk awal pekan ini kami memperkirakan IHSG akan berada pada level 5.813 hingga 5.946,” ujarnya di Jakarta.

Selain akan dirilisnya data perekonomian nasional periode September 2017, pemerintah juga akan mengumumkan tingkat kepercayaan konsumen dan cadangan devisa. Hal ini turut mewarnai pola pergerakan indeks dalam pekan ini. “IHSG berpotensi menguat pada awal pekan ini,” ungkapnya.

Pergerakan IHSG pada pekan kemarin berbalik melemah dengan penurunan 0,18% atau di bawah dari pekan sebelumnya naik 0,67%. Minimnya sentimen positif dari dalam negeri dan imbas dari pergerakan pasar global yang melemah, terutama dengan adanya kekhawatiran meningkatnya tensi geopolitik Amerika Serikat (AS) dan Korea Utara, tampaknya berimbas pada IHSG.

Adapun high level yang diraih mencapai 5.918 di bawah pekan sebelumnya di angka 5.928. Setelah mengalami kenaikan dalam beberapa hari pada pekan sebelumnya, laju indeks terpaksa harus menyerah dengan adanya serbuan aksi ambil untung di awal pekan. Bersamaan dengan itu, pergerakan bursa saham Asia yang cenderung variatif melemah ditambah dengan masih kuatnya investor asing dan pelemahan lanjutan dari rupiah membuat pergerakan IHSG cenderung berakhir di zona merah.

Maraknya saham-saham berkapitalisasi besar yang masuk area merah turut membuat laju IHSG sulit bergerak naik. Pelemahan itu pun dibarengi dengan sentimen kembali meningkatnya tensi geopolitik antara AS dan Korea Utara yang berimbas ke hampir seluruh indeks saham global, termasuk IHSG.

Pernyataan Ekonom Bank Pembangunan Asia (ADB) Emma Allen turut menambah sentimen negatif meski yang disampaikan sesuai dengan kondisi riil nanti. Dia mengatakan, ekonomi Indonesia masih menghadapi sejumlah risiko internal maupun global, meskipun berpotensi tumbuh kuat pada 2017 dan 2018.

Masih berlanjutnya aksi jual asing bersamaan dengan pelemahan lanjutan dan merahnya sejumlah indeks saham global, yang dibarengi dengan pelemahan lanjutan rupiah membuat laju IHSG masih terjerembab di zona merah. Pelemahan pada saham-saham big caps seiring aksi jual masif memberatkan laju indeks. Minimnya sentimen dalam negeri, kecuali beberapa berita-berita individual emiten, berimbas pada kurang kuatnya pergerakan IHSG untuk melaju dan bertahan di zona hijau.

Adanya pemberitaan penolakan Menteri ESDM Ignasius Jonan terhadap perhitungan harga batu bara untuk PLN dengan menggunakan cost plus margin , tidak cukup kuat mengangkat IHSG meskipun indeks sektoralnya menguat. Pada akhir pekan laju IHSG kembali naik signifikan, karena pelaku pasar memanfaatkan pelemahan sebelumnya setelah merespons positif pergerakan bursa saham global dan penguatan rupiah meski dibarengi masih dominannya pelaku pasar asing.

Sepanjang pekan lalu, asing mencatatkan nett sell Rp2,47 triliun dari pekan sebelumnya nett sell Rp578,27 miliar. Maraknya aksi jual yang terjadi hingga pekan kemarin membuat nilai transaksi asing tercatat jual bersih Rp10,47 triliun di atas pekan sebelumnya Rp8,01 triliun.

Sementara analis senior Binaartha Securities, Reza Priyambada menjelaskan, aksi beli pada akhir pekan kemarin mampu membuat posisi IHSG mampu bertahan dari tren pelemahannya meskipun dari bentuk candle masih terlihat merah menandakan masih adanya volume jual. “Laju IHSG pun kembali di persimpangan, di tengah masih variatifnya kondisi pasar,” kata Reza.

Pergerakan indeks pada awal bulan ini akan dipengaruhi seberapa positif sentimen pada pekan depan dan reaksi dari pelaku pasar. Dia berharap penguatan bisa kembali terjadi. Karena itu, pelaku pasar diminta tetap mencermati berbagai sentimen yang bisa menahan peluang kenaikan IHSG serta mewaspadai potensi pelemahan akibat aksi ambil untung.

“IHSG pada pekan ini diproyeksikan akan berada di kisaran level support 5.830-5.865 dan resisten 5.924-5.943. Hal tersebut menurun dibandingkan proyeksi pekan sebelumnya yang berada di level support 5.845-5.868 dan resisten 5.930-5.942,” ujarnya.

Post Terkait