Siasati Gaji Kecil agar Bisa Berinvestasi!

Gaji kecil, terkadang menjadi alasan mengapa saat ini Anda belum memulai berinvestasi. Alasan lain yang senada adalah, gajinya kurang. Atau gaji tidak cukup. Intinya sama, sudah tidak ada ‘ruang’ lagi untuk berinvestasi. Yakin?

Sebelum Anda berinvestasi, Anda tentu harus mengerti apa dan bagaimana investasi itu. Jangan sampai Anda termakan dengan iming-iming yang tinggi, yang ternyata membawa Anda ke jurang kerugian karena investasi yang Anda ikuti ternyata penipuan. Dalam investasi, berlaku high risk high return. Untuk mendapat keuntungan yang tinggi, ingat risikonya juga pasti tinggi. Investasi juga butuh waktu untuk berkembang. Bersabarlah dan konsisten, pasti akan membuahkan hasil.

Oke, lalu bagaimana menyiasati gaji saya yang kecil untuk berinvestasi?
Pertama, tidak ada yang namanya gaji kecil. Bersyukurlah, tidak semua orang lho punya gaji (baca: pekerjaan). Saat Anda mengeluh gaji kecil, di luar sana masih banyak orang yang bingung besok makan apa karena tidak punya gaji/penghasilan tetap. Ada juga orang-orang yang diberhentikan dari pekerjaan bahkan tanpa pemberitahuan sebelumnya.

Tidak ada gaji kecil, yang ada hanya tidak bisa mengatur keuangan. Cek pengeluaran Anda mulai dari yang primer (kebutuhan tempat tinggal termasuk listrik, air, dan lain sebagainya, makanan, pakaian) cicilan, transportasi ke tempat kerja, pekerja rumah tangga (ART, supir, babysitter), hiburan, binatang peliharaan hingga pengeluaran terkecil yang detail seperti bayar parkir, jajan, dan lain sebagainya. Dari kebanyakan klien yang pernah saya tangani, kebanyakan dari mereka baru menyadari ke mana ‘larinya’ uang mereka setelah dicek secara detail.

Jika Anda merasa kesulitan, Anda juga bisa memeriksa pengeluaran Anda dengan membaginya per waktu: harian, mingguan, bulanan. Contoh, pengeluaran harian: transportasi, makan, jajan, belanja rumah tangga. Pengeluaran mingguan: hiburan setiap weekend, makan, nonton, parkir. Pengeluaran bulanan: belanja ke supermarket, cicilan, tagihan air/listrik/internet. Nah ini bisa berbeda-beda untuk setiap orang. Bagi Anda yang naik kendaraan umum, transportasi adalah pengeluaran harian. Namun bagi Anda yang membawa kendaraan, transportasi berarti mengisi bensin yang hanya dilakukan seminggu sekali (mingguan).

Hitung total pengeluaran Anda dan ketahui berapa yang Anda habiskan dalam setiap pos-posnya secara detail. Dari pos-pos tersebut baru terlihat mana yang bisa Anda kurangi, mana yang tidak. Contoh: biaya hiburan tentu sangat variatif, tidak setiap minggu Anda boros/menghabiskan uang. Adakalanya Anda ingin bersantai saja di rumah. Selain itu, hiburan yang menyenangkan tidak harus menghabiskan banyak uang, aktivitas di luar ruangan/berolahraga juga bisa menyegarkan kembali pikiran Anda. Buat daftar mana saja pos-pos pengeluaran yang Anda rasa boros dan bisa dikurangi, serta seberapa besar akan dikurangi.

Tidak ada yang senang jika diberitahu Anda harus mengurangi pengeluaran. Betul kan? Kunci dari mengurangi pengeluaran adalah mencari alternatif. Cari alternatif transportasi yang lebih murah, tempat makan yang lebih murah (atau masak sendiri), hiburan tanpa keluar uang (bahkan kalau bisa menghasilkan uang!), berbelanja di tempat yang lebih murah, dan lain sebagainya. Hasil dari penghematan ini, bisa Anda alihkan untuk berinvestasi.

Belajarlah membedakan keinginan dan kebutuhan. Keinginan akan selalu berhubungan dengan gengsi, sedangkan kebutuhan harus dipenuhi karena berhubungan dengan kelangsungan hidup. Hati-hati menganggap keinginan sebagai kebutuhan. Untuk belajar Anda bisa cek informasi-informasi workshop dan kelas-kelas ini. Untuk di Jakarta anda bisa memakai info ini sebagai rujukan, buka di sini, untuk Bali buka di sini dan di sini, selain itu di Jakarta akan ada kelas Basic FP info di sini untuk CPMM Jakarta di sini, sementara untuk reksa dana Jakarta di sini berbarengan dengan di Yogya, Solo dan Semarang (JogLoSemar / Jawa Tengah) bisa lihat info di sini dan di sini.

Kembali ke artikel, nah Berita bagusnya, untuk berinvestasi Anda tidak perlu banyak uang. Ada yang namanya reksa dana, produk pasar modal yang cocok bagi mereka yang pemula dan belum paham bagaimana berinvestasi langsung di pasar modal dengan saham. Jumlah yang diperlukan untuk berinvestasi reksa dana bisa mulai dari Rp 100.000. Tentu Anda bisa menyisihkan Rp 100.000 dengan menghemat dari pos hiburan, misalnya.

Adakah cara lain yang lebih mudah untuk siasati gaji kecil agar bisa berinvestasi?

Ada, tentu saja. Triknya adalah: potong di depan. Ketika Anda menerima gaji, langsung alihkan sejumlah yang ingin Anda investasikan ke rekening reksa dana. Apalagi beberapa bank menyediakan fasililtas auto-invest, fasilitas yang mirip seperti auto-debet namun bedanya auto-invest langsung ke rekening reksa dana, auto-debet ke rekening tabungan. Dengan memotong di depan, Anda akan belajar hidup dengan sisanya, bukannya menunggu sisa baru berinvestasi.

Perlu digarisbawahi, hiduplah sesuai dengan gaji Anda. Apabila gaji Anda Rp 4 juta, jangan bergaya seperti punya gaji Rp 5 juta. Apabila gaji Anda Rp 5 juta, jangan bergaya seperti punya gaji Rp 7 juta. Lebih bagus lagi apabila Anda bisa bergaya hidup di bawah gaji Anda, dengan demikian akan lebih banyak yang bisa Anda simpan untuk ditabung dan diinvestasikan untuk masa depan dan taraf hidup yang lebih baik.

Post Terkait