Sentimen Global Bayangi Gerak Rupiah

Bank Indonesia (BI) menilai pelemahan nilai tukar rupiah tidak sendirian. Mata uang dunia lainnya juga. Pelemahan tersebut didorong faktor eksternal terutama rencana kenaikan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (AS) atau the Federal Reserve.

Hal itu disampaikan Kepala Departemen Pengelolaan Moneter Bank Indonesia (BI), Doddy Zulverdi. Ia menyatakan pelemahan rupiah yang terjadi saat ini murni disebabkan oleh faktor global bukan dari domestik atau dalam negeri. Menguatnya pertumbuhan ekonomi AS membuat spekulasi bank sentral AS akan menaikkan kembali suku bunga,

“Pelemahan pada lima tahun terakhir itu sepenuhnya merupakan respons yang terjadi dari tekanan global dan ini berlaku pada negara berkembang dan juga maju. Jadi bukan karena masalah domestik,” ujar dia, Kamis (1/3/2018).

Ia menuturkan, negara maju yang dipandang kuat dari segi ekonomi juga hadapi imbas yang sama dari bursa global yang kini terjadi. Ini yang ditunjukkan dari mata uang negara maju turut tertekan.

Doddy mencontohkan, mata uang Swedia melemah hampir lima persen pada awal Februari. Kemudian pound sterling hampir tiga persen.

“Swedia yang terkenal kuat kini melemah dari awal Februari hampir 5 persen, yaitu 4,8 persen. British pound hampir 3 persen, Norwey 2,5 persen, hampir terdampar juga. Thailand, Malaysia, China yang 0,7 persen, Korea 1,4 persen. Seluruh mata uang dunia juga melemah, termasuk yang terkenal kuat. Jadi ya semua kena,” jelas dia.

Meski hadapi sentimen global negatif, Bank Indonesia sigap hadapi sentimen global tersebut. Caranya lewat menjaga kebijakan moneter dengan pertahankan suku bunga acuan. BI 7 day reverve repo rate bertahan di kisaran 4,25 persen.

“BI sudah lama persiapkan kondisi ini. Makanya dari Septemer lalu kami tidak turunkan suku bunga. Dan juga tidak lupa kebijakan-kebijakan hedging yang kami sudah lakukan,” kata dia.

Melihat fenomena ini, ia mengaku BI sudah ada di garda terdepan pada pasar ketika terjadi pelemahan nilai tukar rupiah.

“Tekanan-tekanan yang terjadi dari Januari sampai sekarang, semuanya BI sudah ada di pasar. Tentu tidak di setiap titik, tapi kami ada di saat-saat ketika pelemahan yang terjadi cepat sekali. Misal, nilai tukar rupiah 13.800, itu semenjak pasar valas dibuka, kami sudah siap. Kita lihat semua data pasar dunia, Amerika, Singapura. BI sangat waspada dan ketika ada pergerakan cepat kita masuk,” ujar dia.

Rupiah Sempat Tembus 13.817 per Dolar AS

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus bergerak melemah pada perdagangan Kamis ini. Penguatan dolar AS memang teradi terhadap hampir seluruh mata uang di dunia.

Mengutip Bloomberg, Kamis 1 Maret 2018, rupiah dibuka di angka 13.662 per dolar AS, melemah jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.751 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.760 per dolar AS hingga 13.817 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 1,67 persen.

Sedangkan berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.793 per dolar AS. Patokan pada hari ini juga melemah jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.707 per dolar AS.

Selanjutnya

Nilai tukar dolar AS memang menguat terhadap seluruh mata uang dunia. Penguatan dolar AS lebih tinggi akibat euro melemah karena kekhawatiran akan angka inflasi.

Dolar AS menguat setelah komentar dari Gubernur Bank Sentral AS atau the Federal Reserve (the Fed) Jerome Powell yang cukup optimistis terhadap pertumbuhan ekonomi di AS.

Berbeda sekali dengan AS, data inflasi yang melemah di zona euro memberi tanda-tanda bahwa Bank Sentral Eropa akan kembali memberikan stimulus sehingga membanting euro ke posisi terendah lima minggu terhadap dolar AS dan enam bulan terhadap yen Jepang.

The dollar index naik ke level tertinggi lima minggu di 90,746, karena optimisme Powell terhadap ekonomi AS menyarankan bahwa Fed akan menaikkan suku bunga empat kali di tahun ini, di atas perkiraan pasar.

“Pelaku pasar sebenarnya memperkirakan bahwa Bank Sentral Eropa akan menaikkan suku bunga di tahun ini, tetapi pada kenyataannya justru belum jelas,” tutur Makoto Noji, senior analis Nikko SMBC.

Post Terkait