Seluk Beluk Jadi Perusahaan Go Public

Modal merupakan hal yang sangat penting bagi perusahaan. Ada banyak cara mengakses permodalan, salah satunya melalui pasar modal.

Pasar modal juga tidak hanya bermanfaat untuk mencari modal. Dengan go public, perusahaan juga bisa memperbaiki citra dengan mengedepankan tata kelola perusahaan yang baik dan transparan atau good corporate governance (GCG).

Namun untuk melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) ada banyak seluk-beluk yang harus diketahui calon emiten terlebih dahulu.

detikFinance berkesempatan berbincang-bincang dengan Direktur Penilaian Perusahaan PT Bursa Efek Indonesia (BEI) Samsul Hidayat. Ada banyak hal yang dikupas, mulai dari tata cara IPO, tantangan IPO, hingga terkait PT Freeport Indonesia yang bakal melepas 51% sahamnya ke pihak Indonesia.

Berikut wawancara dengan Direktur Penilaian Perusahaan BEI Samsul Hidayat saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (7/9/2017).

Bagaimana cara BEI untuk merayu perusahaan untuk IPO? Ada strategi khusus buat meyakinkan calon investor?
Jadi sebenarnya banyak faktor yang mempengaruhi keinginan perusahaan untuk melakukan IPO. Kami dari tahun ke tahun selalu mengadakan pendekatan kepada perusahaan-perusahaan yang ada di Indonesia, baik sifatnya secara massal kita kumpulkan maupun secara one on one.

Kita juga bursa melakukan pendatangan door to door atau misalnya kita kumpulkan 20 pengusaha kemudian yang punya minat misalnya 10, nah ini yang kita coba komunikasikan. Kita berikan penjelasan penjelasan yang lebih detail mekanisme manfaat tujuan dan lain-lain.

Perusahaan memang punya kebutuhan untuk IPO. Baik kebutuhan pendanaan capital structure, kebutuhan untuk brand image, perusahaan keputusan untuk memperbaiki good corporate governance dan kebutuhan untuk memperbaiki bisnis itu sendiri. Jadi banyak sekali alasannya untuk IPO.

Tentunya ini sangat tergantung artinya mentransformasi perusahaan keluarga menjadi perusahaan publik bukan hal yang sederhana. Proses IPO sendiri dalam internal perusahaan bisa memakan waktu panjang. Ada proses decision maker-nya itu kan tidak cepat.

Jadi kalau kita lakukan saat ini bisa saja mereka baru mulai berpikir untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Jadi prosesnya dalam internal sendiri tidak bisa kita kalkulasikan, kalau kita hitung proses dari mereka sudah setuju oke mungkin itu butuh waktu 1 tahun ya minimal enam bulan untuk IPO.

Di samping itu kita juga memanfaatkan perusahaan lain yang sudah IPO. Mereka biasanya punya komunitas untuk menyampaikan kepada teman-teman mereka manfaat yang bisa mereka peroleh setelah menjadi perusahaan publik.

Memang apa yang paling sering ditanyakan calon emiten?
Umumnya mereka bertanya kalau mereka tidak tahu mulainya dari mana, ini mekanisme proses yang kita jelaskan. Kemudian mereka juga ragu akan kondisi saat ini. Jadi tidak hanya masalah internal tapi juga masalah kondisi politik ekonomi suatu negara juga mempengaruhi karena daya serapnya kalau dijual terus tapi nggak ada yang beli Buat apa juga

Sebenarnya 2017 Ini tren dunia pun untuk IPO cukup baik dibandingkan 2016. Di 2017 angkanya cukup baik secara global dari data EY yang ada itu angkanya cukup menggembirakan secara global.

Pada 2017 ini sampai dengan Juli IPO itu sudah mencapai 772 perusahaan dengan dana yang bisa diambil US$ 83,4 miliar itu sekitar Rp 1.000 triliunan. Untuk jumlah perusahaan itu lebih baik 70% dibandingkan 2016 periode yang sama, untuk dananya meningkat 90% dibandingkan tahun 2016.

Apa yang jadi tantangan perusahaan melakukan IPO?
Proses IPO sendiri sebenarnya ini merubah perusahaan dari tertutup menjadi terbuka. Tentunya ada hal yang mendasar yang harus dilakukan, misalnya mereka harus mengubah anggaran dasar mereka dari perusahaan tertutup menjadi perusahaan terbuka.

Jumlah sahamnya juga berubah, biasanya nilai nominal perusahaan misalnya cuma dua orang itu jumlahnya bisa Rp 50 juta kemudian kalau mau IPO tentunya harus buat nominalnya jadi lebih kecil jadi Rp 100 atau Rp 1.000 per saham .

Kemudian mereka juga harus minta izin kepada kreditur mereka. Karena mungkin selama ini kan mereka pinjamnya ke bank. Ini akan mengubah apa yang disebut dengan kebijakan dividen. Artinya sebagian uang keuntungan yang akan diperoleh perusahaan akan dibagikan kepada pemegang saham, itu harus diungkapkan sebelumnya kepada kreditur mereka.

Sisanya hanya administrasi tentunya perusahaan yang baik sudah punya administrasi yang bagus. Mestinya ini nggak berpengaruh kalau mau dikerjain nggak ribet ribet banget.

Tapi resmi kita sampaikan untuk jadi perusahaan publik itu ada konsekuensinya. Artinya secara hukum yang dipatuhi bertambah. Kalau tadinya hanya tunduk pada undang-undang PT, sekarang bertambah jadi harus tunduk pada Undang-Undang Pasar Modal.

Intinya ini disiapkan untuk menjadi perusahaan publik secara struktur organisasi mereka harus punya orang yang handal khusus pasar modal misalnya mereka harus punya corporate secretary, mereka harus punya orang yang memahami bagaimana jadi perusahaan publik, mereka harus punya direktur yang berstatus independen yang tidak mewakili pemegang saham tidak berafiliasi pemegang saham mayoritas.

Mereka juga harus punya komisaris independen mereka harus punya komite audit yang melakukan audit atas perusahaan. Artinya komite audit yang melakukan pengawasan internal untuk membantu komisaris dalam proses pengawasan

Memang ada persyaratan calon emiten yang ingin IPO tidak boleh merugi?
Di dalam persyaratan OJK tidak menyebutkan mereka harus untung. Tapi di BEI ada. Karena ada dua papan, yakni papan utama dan papan pengembangan. Untuk papan utama memang BEI mensyaratkan perusahaan harus laba selama 2 tahun terakhir, namun untuk perusahaan yang belum memperoleh laba bisa dicatatkan di papan pengembangan.

Untuk perusahaan jenis tertentu seperti tambang mineral bahkan kita memberikan untuk perusahaan yang belum mempunyai pendapatan bisa. Artinya sudah berproduksi namun belum menjual atau artinya perusahaan belum mempunyai pendapatan secara penuh itu bisa di IPO kan.

Untuk perusahaan lainnya kalau sedang rugi bisa, tapi mereka harus punya proyeksi kapan mereka akan untung

Perbedaan papan pengembangan dan utama?
Bedanya hanya dari sisi aset misalnya kalau di awal itu net tangible assets. Kalau papan utama itu net tangible assets-nya harus Rp 100 miliar kalau pengembangan cukup Rp 5 miliar.

Net tangible itu berarti total aset dikurangi total kewajiban dikurangi pajak dari segala macam, lalu keluarlah net tangible assets. Jadi aset yang benar-benar tangible.

Sekarang jumlah IPO yang ada di pipeline?
Sampai hari ini sudah ada 10 perusahaan yang berminat.

Jadi per 31 Agustus jumlah saham itu ada 555 emiten. Lalu jumlah saham baru di 2017 saja sudah 21 perusahaan, dana yang bisa dihimpun sekitar Rp 4,1 triliun, untuk obligasi yang sudah tercatat itu tahun 2017 ada 61 perusahaan dengan nilai dana yang bisa di himpun Rp 97 triliun.

Untuk pipeline saham sampai hari ini masih ada 10 yang di dalam pipeline, obligasi masih ada 11 yang di dalam pipeline nilainya Rp 17,6 triliun.

Untuk KIK EBA masih ada satu di pipeline dengan nilai Rp 9,9 triliun, lalu ETF ada satu dengan nilai Rp 10 miliar. REITs ada 2 dengan nilai Rp 2,9 triliun.

AirAsia memilih backdor listing ketimbang IPO, bagaimana menurut BEI?
Salah satu mekanisme perusahaan untuk menjadi perusahaan publik memang ada cara lain dengan mengakuisisi perusahaan terbuka. Mungkin ada beberapa alasan misalnya memang sudah ada strategic partner yang akan masuk dan ingin agar perusahaan yang diambil ini adalah perusahaan terbuka.

Misalnya mereka juga belum mau terlalu banyak pemegang saham ritelnya. Mereka memang masih ingin menumbuhkan perusahaan jadi lebih besar. Jadi bagus untuk emiten tercatatnya karena meningkatkan value perusahaan, karena perusahaan kecil dimasuki perusahaan besar seperti AirAsia. Kemudian AirAsia menjadi Tbk.

Itu tidak masalah bagi BEI?
Mereka juga di sini sudah melakukan tata cara, misalnya untuk menunjukkan bahwa secara value ini harga asli sahamnya di harga market berapa, kemudian baru mereka right issue. Artinya uji dulu marketnya. Ini cara-cara yang digunakan perusahaan untuk menjadi Tbk bisa melalui ipo atau mengakuisisi perusahaan yang terbuka.

Kalau banyak perusahaan yang backdoor listing apakah akan ganggu target IPO?
Ya enggak apa-apa. Kalau dilihat secara kacamata lebih luas ini akan menggerakan saham perusahaan yang diakuisisi. Biasanya perusahaan yang diakuisisi kan tidak terlalu besar, secara market juga enggak liquid. Kemudian jumlah pemegang sahamnya nggak terlalu banyak, ini bagus untuk perusahaan yang tadi itu.

Terkait divestasi Freeport Indonesia, BEI terkesan ingin ingin melalui pasar modal, apa alasannya?
Memang perusahaan yang bergerak di bidang energi berdasarkan peraturan pemerintah, ada aturan main untuk divestasi kepemilikan asing kepada Indonesia.

Dalam peraturan itu ada beberapa pihak yang berhak mendapatkannya, mulai pemerintah pusat, pemerintah tingkat dua dan tiga, BUMN maupun BUMD. Nah salah satu lainnya mungkin ditegaskan dalam aturan bisa melalui IPO. Bisa saja di-IPO-kan dulu, kemudian dijual ke pemerintah. Ini juga oke.

Karena dengan begitu pemerintah akan disclosure atas perusahaan ini yang akan juga bisa dikontrol masyarakat banyak. Kepemilikan pemerintah di perusahaan tersebut tergambar di market. Jadi misalnya pemerintah beli di harga berapa.

Bagusnya perusahaan publik harganya setiap saat akan berubah sesuai kondisi perusahaan. Pemerintah juga lebih gampang menghitung sebenarnya berapa nilai kepemilikannya nantinya. Jika pemerintah ingin lepas kepemilikannya prosesnya bisa melalui secondary market.

Bisa saja secara strategic dibeli pemerintah pusat atau pemda, tapi kan kalau dia tidak IPO setiap saat pemegang saham mau melakukan sesuatu harus melakukan valuasi dulu. Kalau IPO lebih gampang misalnya pemerintah punya 20% tinggal dikalikan jumlah saham dengan harga saham pasarnya

Karena salah satu keindahan IPO itu pemilik perusahaan jadi mengetahui berapa nilai perusahaannya. Dan pemeriksaan perusahaan punya fleksibilitas ketika ingin melepas kepemilikannya.

 

Post Terkait