Saham Murah Bertebaran di Sektor Perkebunan, Bagaimana Prospeknya?

Meski laba sebagian emiten perkebunan mengalami tekanan akibat sejumlah sentimen, harga saham perusahaan publik tersebut masih cukup prospektif untuk disentuh oleh investor. Apalagi, harga saham emiten kebun masih banyak terjangkau.

“Kalau bicara prospek harusnya masih cukup bagus ya, karena tingkat kebutuhannya (hasil perkebunan) itu sangat terelasi dengan consumer goods, dan yang direct consumer juga, jadi bukan hanya yang consumer goods,” kata Analis Asjaya Indosurya Securities William Surya Wijaya ketika dihubungi Okezone di Jakarta.

Artinya, pangsa pasar produk yang dihasilkan oleh emiten perkebunan masih cukup luas, tak sebatas ke konsumen retail. Untuk skala industri, hasil dari perkebunan juga masih cukup dibutuhkan.

“Karet juga direct consumer kan bisa dipakai ke hal yang lain yang memang dibutuhkan. Untuk industri manufaktur masih dibutuhkan, terus ditambah lagi kita bicara CPO masih dibutuhkan untuk barang-barang consumer goods,” jelasnya lebih jauh.

Tercatat, hingga tutup perdagangan, Rabu (2/8/2017), harga saham emiten perkebunan tercatat sebagai berikut:

PT Multi Agro Gemilang Plantation Tbk (MAGP) harga sahamnya stagnan di Rp50

PT Gozco Plantations Tbk (GZCO) harga sahamnya stagnan di Rp73

PT Bakrie Sumatra Plantations Tbk (UNSP) harga sahamnya Rp188, turun 2,08%

PT Eagle High Plantation Tbk (BWPT) harga sahamnya Rp216, turun 0,92%

PT Jaya Agra Wattie Tbk (JAWA) harga sahamnya Rp218, turun 1,80%

PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG) harga sahamnya stagnan di Rp470

PT Salim Ivomas Pratama Tbk (SIMP) harga sahamnya Rp510, turun 1,92%

PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP) harga sahamnya Rp1.415, naik 0,35%

PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) harga sahamnya stagnan di Rp3.810

PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) harga sahamnya Rp14.900, naik 1,36%

Dari sisi ekspor, produk emiten perkebunan kata dia juga masih bisa tumbuh positif. Untuk kebutuhan dalam negeri pun juga masih cukup besar. Jadi meski ekspor tak terlalu signifikan, pangsa pasar domestik masih mampu menampung.

“Dari sisi kegunaan kan karena kita negara demografis cukup besar itu penggunaan di dalam negeri masih cukup besar untuk kebutuhan misalnya CPO,” tukasnya.

Post Terkait