Saham Anak-Anak BUMN Melempem, Ini Kata Pemerintah

Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kini tengah didorong anak-anak usahanya melantai di pasar modal. Namun ternyata kinerja sahamnya kurang menggembirakan.

Seperti PT Garuda Maintenance Facility AeroAsia Tbk (GMFI) yang sahamnya melemah 8 poin saat pencatatan dari Rp 400 menjadi Rp 382 per saham. Bahkan selang 2 hari dicatatkan saham GMFI tercatat melemah 15% ke level Rp 340.

PT PP Presisi Tbk (PPRE) yang baru saja mencatatkan sahamnya, juga melempem. Saham PPRE dibuka sempat menguat 2 poin atau 0,47% ke level Rp 432. Selang beberapa detik saham PPRE malah turun 2 poin atau 0,47% ke level Rp 428 dan berangsur turun 5,1% ke Rp 408 per saham.

Deputi Bidang Restrukturisasi dan Pengembangan Usaha Kementerian BUMN, Aloysius Kiik Ro menanggapi santai hal tersebut. Menurutnya pelemahan saham dua anak BUMN tersebut lebih karena terseret kondisi di pasar.

“Kita lihat compare to indeks juga, jangan hanya melihat dia. Artinya secara keseluruhan. Lalu compare dengan sektor infrastruktur juga. Kebetulan sektornya hampir sama semua kan. Kalau pricing relatif loh,” tuturnya di Gedung BEI, Jakarta, Jumat (25/11/2017).

Sementara Direktur Utama Bahana Sekuritas, Marciano H Herman, selaku salah satu penjamin emisi IPO PPRE menepis pandangan pelaku pasar bahwa harga penawaran saham anak-anak BUMN tersebut kemahalan.

“Memang persepsi investor dan emiten agak berbeda. Emiten selalu minta valuasi jangka panjang dan investor melihat ada kemungkinan risiko. Tapi begitu proyeknya jadi, proven itu langsung,” tukasnya.

IPO Tetap Jalan

Aloysius menegaskan, saham-saham anak usaha BUMN yang loyo itu tidak akan menyurutkan minat anak BUMN lainnya untuk melepas saham di pasar modal. Seperti PT Wika Gedung Tbk yang mencatatkan sahamnya pada 30 November 2017 mendatang.

“Selain itu ada PT Jasa Armada Indonesia, itu tetap,” tuturnya.

Dia juga mencatat tahun depan setidaknya akan ada 12 anak usaha BUMN yang akan melakukan penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di tahun depan.

“Tadinya 10, tapi tambah 2. Tapi bisa lagi berubah, kan kita enggak bisa paksakan kalau tidak siap,” imbuhnya.

Untuk jatuhnya harga saham anak BUMN tersebut, Aloy menanggapi santai. Menurutnya pelemahan saham dua anak BUMN tersebut lebih karena terseret kondisi di pasar.

“Kita lihat compare to indeks juga, jangan hanya melihat dia. Artinya secara keseluruhan. Lalu compare dengan sektor infrastruktur juga. Kebetulan sektornya hampir sama semua kan. Kalau pricing relatif loh,” tukasnya.

Post Terkait