Rupiah Stabil, Investor Masih Cermati Perang Dagang AS-China

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan di awal pekan ini. Kekhawatiran perang dagang AS-China masih menjadi sentimen penggerak pasar uang.

Mengutip Bloomberg, Senin (9/4/2018), rupiah dibuka di angka 13.770 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.778 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.757 hingga 13.780 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah melemah 1,56 per dolar AS.

Adapun berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.771 per dolar AS di awal pekan ini. Tak berubah jika dibandingkan dengan patokan pada Jumat lalu di angka 13.771 per dolar AS.

Dolar AS memang bergerak stabil di Asia termasuk juga di Indonesia setelah mengalami tekanan yang cukup dalam pada pekan lalu karena kekhawatiran ketegangan perang dagang AS dengan China.

Selain itu, data tenaga kerja AS yang menunjukkan bahwa penciptaan pekerjaan baru mengalami pertumbuhan paling sedikit dalam enam bulan juga membuat dolar AS terkapar.

China pada Jumat lalu memberikan peringatan yang cukup keras kepada AS akan membalas tindakan Presiden AS Donald Trump jika benar akan menambah tarif US$ 100 miliar terhadap barang-barang China.

Pernyataan yang semakin agresif antara Beining dengan Washington telah menimbulkan kekhawatiran akan perang dagang yang akan melukai pertumbuhan ekonomi global.

“Kami tidak tahu sampai dimana dolar AS akan jatuh,” jelas analis senior Barclays, Tokyo, Jepang, Shinichiro Kadota.

Tekanan Eksternal

Sebelumnya, Asisten Gubernur Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter Bank Indonesia, Dody Budi Waluyo, mengatakan, pergerakan nilai tukar rupiah sebetulnya tidak perlu dibesar-besarkan. Hanya saja, masyarakat harus lebih confident.

“Ini masalah confident saja, karena saya yakin bahwa kalau kondisi domestiknya aman, seharusnya tidak ada isu kalau rupiah itu terlampau murah dihargai sampai level tersebut. Jadi itu harusnya rupiah itu menjadi lebih kuat hanya masalah sekarang confident itu diperbaiki,” kata Dody pada 27 Maret 2018.

Meski demikian, dia mengakui adanya tekanan eksternal untuk nilai tukar rupiah. Sementara secara domestik, indikator-indikator yang telah dilakukan BI sejauh ini mampu berjalan maksimal.

“Nah kalau kita bicara confident tentunya harus kita yakini bahwa ada tekanan dari eksternal tetapi domestiknya sebenarnya tidak membuat nilai tukar ini harus melemah yah karena memang kecenderungan indikator kita bagus semua inflasi bagus dan cadangan devisa kita memang masih belum turun, masih di level masih tinggi. Jadi harusnya konteksnya adalah jaga confident,” jelas dia.

Post Terkait