Rupiah Perpanjang Depresiasi di Tengah Ketidakpastian Politik

Nilai tukar rupiah memperpanjang depresiasinya pada pengujung perdagangan pekan ini, Jumat (16/3/2018), saat mata uang lainnya di Asia bergerak variatif di tengah ketidakpastian politik di Amerika Serikat (AS).

Rupiah ditutup terdepresiasi tipis 0,01% atau 2 poin di Rp13.751 per dolar AS, setelah dibuka dengan pelemahan 19 poin atau 0,14% di posisi Rp13.768 per dolar AS.

Adapun pada perdagangan Kamis (15/3), rupiah berakhir melemah 0,11% atau 15 poin di posisi 13.749, mematahkan reli apresiasi selama empat hari berturut-turut sebelumnya.

Sepanjang perdagangan hari ini, rupiah bergerak di kisaran Rp13.745 – Rp13.773 per dolar AS.

Sementara itu, yen Jepang yang terapresiasi 0,6% memimpin penguatan sejumlah mata uang di Asia pada pukul 17.25 WIB, sedangkan rupee India dan won Korsel yang masing-masing melemah tipis 0,06% memimpin depresiasi beberapa mata uang Asia lainnya.

Di sisi lain, indeks dolar AS yang mengukur kekuatan kurs dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama hari ini terpantau melemah 0,18% atau 0,164 poin ke level 89,975 pada pukul 17.10 WIB.

Sebelumnya indeks dolar dibuka di zona hijau turun tipis 0,010 poin atau 0,01% di level 90,129, setelah pada perdagangan Kamis (15/3) berakhir menguat 0,48% atau 0,435 poin di posisi 90,139.

Dilansir Bloomberg, yen memimpin penguatan mata uang di Asia hari ini menyusul kabar rencana Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump untuk menyingkirkan penasehat keamanan nasionalnya.

Kabar terbaru tersebut memicu meluasnya kekhawatiran tentang masa depan kebijakan asing pemerintahan Trump sekaligus mendorong daya tarik aset safe havendi tengah ketidakpastian politik.

Laporan bahwa Penasehat Khusus Robert Mueller mengeluarkan surat panggilan untuk Trump Organization turut menambah kekhawatiran tentang ketidakpastian politik di AS.

Investor selanjutnya akan menantikan pertemuan kebijakan bank sentral AS The Federal Reserve demi mendapatkan petunjuk arah suku bunga acuan AS di masa mendatang.

“Mengingat adanya kekhawatiran seputar proteksionisme, investor telah bersikap hati-hati terhadap mata uang di Asia. Namun pasar dapat tetap tenang menjelang pertemuan FOMC pekan depan dengan fokus utama pada petunjuknya,” ujar Dushyant Padmanabhan, pakar strategi mata uang di Nomura Holdings.

Post Terkait