Rupiah Naik-Turun, Masyarakat Takut Harga-Harga Bergejolak

Nilai tukar Rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) saat ini sudah berlebihan. Di mana, Rupiah tengah bergerak di kisaran Rp13.700 sampai Rp13.800 per USD.

Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara mengatakan, kalau menurut BI Rupiah itu memang sebelum fluktuasi ini juga sudahundervalued (di bawah nilai fundamental). Jadi kalau ada fluktuasi yang seperti terjadi di beberapa hari terakhir, memang Rupiahnya sudahundervalued.

Mirza menegaskan, pelemahan Rupiah terhadap “greenback” hanya bersifat sementara karena tekanan eksternal. Terlebih, mata uang Garuda bukan menjadi satu-satunya mata uang yang melemah terhadap dolar AS.

Pelemahan Rupiah ini karena perbaikan data ekonomi AS, terutama dari indikator keyakinan konsumen dan proyeksi kenaikan inflasi. Selain itu, pidato Gubernur baru The Federal Reserve Jerome Powell yang mengonfirmasi kenaikan suku bunga acuan AS pada tahun ini secara bertahap menyusul membaiknya perekonomian AS.

Mirza pun membantah jika BI sengaja membuat mata uang Garuda ini melemah untuk mendorong nilai ekspor. Bank Sentral, kata dia, akan berada di pasar untuk menjaga stabilitasi baik di pasar valuta asing (valas) dan pasar Surat Berharga Negara (SBN).

“Enggak ya kalau sudah undervalued untuk apa Bank Indonesia undervalued. Dan BI akan ada di pasar untuk melakukan stabilitasi,” ujar dia.

Menteri Sri Mulyani pun menanggapi pelemahan Rupiah tersebut, dia mengatakan nilai tukar Rupiah di Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 yang dipatok Rp13.400 per USD akan mengalami kenaikan.

Lantas, bagaimanakah tanggapan masyarakat dan dengan terjadinya fluktuatif nilai tukar Rupiah akan memengaruhi aktivitas mereka, berikut tanggapannya:

1. Tini (51) Ibu Rumah Tangga

Jika nilai tukar dolar AS terhadap Rupiah terus naik, maka dampaknya akan dialami masyarakat. Misalnya saja naiknya bahan makanan atau sembako yang memang diimpor oleh Indonesia dan yang dipakai sehari-hari oleh masyarakat.

Kedua bahan baku dari impor juga bisa mengakibatkan industri yang mengimpornya menjadi bangkrut karena bahan baku naik sehingga industri yang tidak bisa memenuhi akan menekan pengeluaran. Dampaknya terhadap masyarakat bisa terjadi PHK massal

2. Abdul Gani (48) Karyawan Swasta

Sebenarnya harga minyak dunia turun, idealnya BBM di Indonesia turun karena tergantung dari harga minyak dunia tadi. Akibat harga bbm di Indonesia naik, dolar Amerika Serikat, harga barang elektronik di Indonesia juga naik seperti laptop, HP, dan lain-lain. Dolar Amerika Serikat naik karena pasokan industri di Indonesia berasal dari impor dan dibayar pakai dolar Amerika Serikat maka otomatis harga bahan baku yang kita impor naik. Akibat dari ongkos produksi yang naik, maka bahan baku harga pada naik, sehingga harga-harga produk yang ada juga naik. Masyarakat pun kena imbasnya. 90% industri di indonesia, bahan bakunya dari luar negri, jadi otomatis harga-harga pada naik.

3. Abdul Karim (58) Wiraswasta

Ada hal yang dirasakan, atau berdampak terhadap usaha yang saya jalani, yaitu untuk biaya pengiriman yang naik untuk usaha saya dan juga harga-harga kebutuhan bahan baku juga naik meskipun tidak terlalu besar, tetapi cukup berpengaruh untuk keuntungan.

4. Belinda Nur Fatimah (27) Karyawan

Oh iya saya sempat baca di berita kalau nilai tukar Rupiah naik turun. Ya, saya dengernya sedih ya, jadi saya juga cukup merasakan dampaknya, apalagi harga cabai yang sempat naik, itu bikin saya pusing, ngatur belanja bulanan jadi susah terus pengeluaran otomatis bertambah.

5. Erry Sudrajat (38) Pedagang

Wah, saya sempat pusing tuh, saya kan jualan bahan sembako ya, jadi cukup merasakan dampaknya seperti apa. Terutama daya beli menurun, kan kalau bahan-bahan yang saja jual pada naik, jadi yang beli juga ikutan berkurang. ya walaupun saya belum merasa rugi, tetapi pendapatan saya menurun karena berkurang yang beli.

Post Terkait