Rupiah Harus Diperkuat Sesuai Fundamental RI

Menteri PPN/Kepala Bappenas sekaligus Ketua ISEI Bambang PS Brodjonegoro mengatakan strategi penguatan Rupiah harus dilakukan dengan lebih fundamental. Bukan hanya melalui operasi moneter atau intervensi pasar dengan cadangan devisa, tapi melalui kebijakan lebih fundamental.

Salah satu yang bisa didorong adalah penguatan ekspor jasa sebagai sumber devisa. Pariwisata atau turisme termasuk kategori ekspor jasa yang bisa menghasilkan devisa dan memperkuat Rupiah secara permanen.

“Jadi jangan hanya berhenti pada ekspor barang, ekspor jasa juga tidak kalah penting karena ekspor jasa mempunyai multiplier effect yang luar biasa,” ujar Bambang dalam siaran pers di Jakarta, kemarin.

Menurut Bambang, pada sisi current account, penguatan Rupiah yang lebih fundamental juga bisa dilakukan dari sisi capital account. Ada yang sifatnya hot money, portofolio, dan Foreign Direct Investment (FDI). Namun, secara jangka pendek yang harus diperhatikan adalah portofolio.

“Karena langsung berdampak terhadap Surat Utang Negara (SUN), pasar modal dan ujungnya terhadap Rupiah,” ujarnya.

Selain itu, lanjutnya, juga harus segera menemukan solusi untuk mencapai per tumbuhan PDB nasional. Salah satu caranya dengan mengganti komponen pertumbuhan yang sedang melambat, yaitu konsumsi.

PDB Indonesia tahun 2018 diprediksi bisa naik menjadi 5,3%. Sejauh ini komponen konsumsi masih menjadi pendorong perekonomian yang dominan. Kontribusinya sebesar 54,3% terhadap PDB pada tahun 2017. Karena porsinya signifikan pada PDB, maka perlambatan konsumsi memiliki dampak terhadap laju pertumbuhan ekonomi.

Sementara itu, Bank Indonesia (BI) memprediksi koreksi di pasar keuangan akan mereda jelang pertemuan The Federal Open Market Committe(FOMC) atau The Fed yang digelar 21 Maret 2018 mendatang. Hal ini diharapkan akan membuat nilai tukar Rupiah dan mata uang lain kembali ke level lebih kuat dari sekarang.

“Kami melihat tampaknya sebagian dari pasar keuangan itu ‘memprice-in’ ekspektasi apa yang diputuskan The Fed tanggal 21 Maret. Refleksi perkembangan nilai tukar dua hari terakhir mudah-mudahan mengonfirmasi ekspektasi ini bahwa keputusan The Fed sudah diprice-in oleh pasar ke uangan global,” kata Kepala Departemen Pengelolaan Moneter BI Doddy Zulverdi di Jakarta, kemarin.

Dia mengatakan, pelemahan Rupiah yang terjadi beberapa hari lalu disebabkan oleh koreksi pelemahan pasar global bukan karena kondisi fundamental domestik.

Namun, kata dia, dalam dua hari terakhir Rupiah stabil dan cenderung menguat. Hal itu menurutnya juga karena dukungan faktor ekonomi global yang kuat. Menurut Doddy, BI juga telah menyiapkan amunisi cadangan devisa lagi untuk intervensi pelemahan nilai tukar Rupiah terhadap dolar AS. Hingga akhir Februari 2018, cadangan devisa tercatat sebesar USD128,06 miliar atau lebih rendah dibandingkan dengan posisi akhir Januari 2018 yang sebesar USD131,98 miliar.

“BI siap dengan amunisinya supaya Rupiah tidak jauh dari fundamental. Itu faktor yang membuat tekanan mereda. Dengan berbagai faktor tadi, baik bersumber dari perubahan pasar keuangan global, kami melihat bahwa pergerakan Rupiah yang dua hari terakhir positif mudah-mudahan bisa terus dipertahankan,” ujarnya.

Selain itu, BI juga berupaya agar tidak ketergantungan terhadap dolar, yakni melakukan kerja sama bilateral dengan menggunakan mata uang masing-masing negara. “Desember tahun 2016, kita jalin kerja sama dengan Malaysia dan Thailand untuk menggunakan mata uang negara, baik itu Rupiah, bath, atau ringgit. Yang jelas ini langkah sangat baik karena perdagangan dengan dua negara itu cukup besar. Seharusnya kebutuhan dolar di tiga negara ini bisa dikurangi kalau bisa dorong penggunaan mata uang lokal,” ujarnya.

Menurut Doddy, ke depan Bank Indonesia akan tetap berada di pasar secara terukur untuk mengawal terciptanya stabilitas Rupiah sehingga kepastian dan keyakinan masyarakat terhadap perekonomian nasional tetap terjaga dengan baik. Ekonom Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia Piter Abdullah menambahkan, pelemahan Rupiah sekarang lebih karena sentimen pasar, yakni pertama karena adanya kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed lebih cepat dan lebih besar dari yang diperkirakan. Kinerja neraca perdagangan yang defisit serta proyeksi pembayaran utang jatuh tempo pada tahun ini jauh lebih besar daripada tahun lalu.

“Semua ini terakumulasi menciptakan sentimen negatif walaupun fundamental ekonomi masih relatif baik,” ungkap Piter saat dihubungi kemarin.

Dihubungi terpisah, pengamat ekonomi Yanuar Rizky menilai, untuk meredam fluktuasi nilai tukar Rupiah seharusnya BI dan pemerintah melakukan intervensi di pasar Surat Utang Negara (SUN). Pasalnya, pasar sekunder SUN sangat berpengaruh terhadap pergerakan nilai tukar Rupiah.

“Sayangnyua selama ini yang menjadi market maker di pasar sekunder SUN adalah asing, harusnya lokal menguasai 60%, SUN juga bisa bermain. Ini harus disadari oleh regulator,” kata Yanuar.

Menurut dia, jika BI hanya melakukan intervensi di pasar valas, maka akan seperti menggarami air laut. Karena dari sisi teknikal di pasar valas akan terjadi naik turunnya nilai tukar. Untuk itu, agar Rupiah tidak bergerak liar ke level Rp15.000, sudah saatnya BI dan pemerintah memantau pasar sekunder SUN.

Post Terkait