Rupiah Diprediksi Melemah Hingga Akhir 2017

Beberapa ekonom meramalkan, lemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bisa terjadi hingga akhir 2017.

Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS pada perdagangan beberapa hari terakhir melemah tajam. Dolar menguat cukup tajam dan menembus Rp 13.500.

“Saya pikir penguatan dolar dapat berlanjut apabila didukung juga oleh perbaikan dan konsistensi data-data ekonomi AS,” kata Ekonom Bank Permata, Josua Pardede, saat dihubungi detikFinance, Jakarta, Selasa (3/10/2017).

Penguatan dolar AS terhadap rupiah salah satunya karena rencana pemerintahan Donald Trump melakukan pemangkasan pajak, serta beberapa situasi dan isu politik global.

“Tren penguatan dolar masih berpotensi terjadi hingga akhir tahun, seiring dengan pengetatan kebijakan moneter yang akan direalisasikan pada akhir tahun ini,” ungkap dia.

Namun demikian, Josua mempercayai, Bank Indonesia (BI) akan selalu berada di pasar uang untuk melakukan langkah-langkah stabilisasi, apabila pergerakan rupiah tidak sesuai dengan fundamentalnya.

Selain itu, lanjut dia, rupiah juga masih ditopang oleh penguatan fundamental ekonomi seperti terkendalinya inflasi, terkendalinya defisit neraca transaksi berjalan, peningkatan cadangan devisa, serta pemulihan pertumbuhan ekonomi.

Sementara Ekonomi dari INDEF, Bhima Yudhistira, mengatakan butuh waktu cukup lama untuk menggerek rupiah hingga titik keseimbangan yakni antara Rp 13.400-Rp 13.600 per dolar AS.

“Iyah berapa lama penguatan dolar ini terjadi, penguatan dolar bisa bertahan sampai akhir 2017,” kata Bhima.

Selain berdampak pada nilai tukar, Bhima mengungkapkan, dampak yang lain usai pemerintahan AS ingin melakukan pemangkasan pajak juga kepada capital outflow, bunga surat utang naik, beban biaya produksi industri menjadi naik khususnya pada produk bahan bakunya impor.

“Solusinya memang fundamental ekonomi harus diperkuat. Kalau rupiah terlalu rendah BI bisa bisa melakukan operasi moneter,” papar dia.

Operasi yang dimaksud, kata Bhima, BI bisa menguatkan kembali nilai tukar rupiah dengan membeli surat berharga negara (SBN) pemerintah dalam denominasi rupiah maupun valuta asing (valas), baik di pasar spot, forward, atau swap.

Post Terkait