Risiko Kredit Perbankan Nasional Masih Tinggi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengungkapkan risiko kredit bermasalah di perbankan nasional masih tinggi. Berdasarkan data OJK per Oktober 2017 rasio kredit bermasalah atau non performing loan (NPL) tercatat 2,97% atau naik dibandingkan periode September 2017 2,93%.

Rasio kredit bermasalah adalah persentase tersendatnya pengembalian kredit kepada kreditur, atau macetnya pembayaran cicilan oleh nasabah kepada pemberi utang dalam hal ini bank atau lembaga keuangan yang menyalurkan pembiayaan.

“Rasio NPL gross perbankan naik, di satu sisi kita lihat ada beberapa pengaruh, rasio NPL itu kan dibagi total kredit ya, ini menyebabkan kreditnya tidak naik terlalu tinggi,” kata Deputi Komisioner Pengaturan dan Pengawasan Terintegrasi OJK, Imansyah dalam diskusi di Gedung OJK, Jakarta, Jumat (24/11/2017).

Iman menjelaskan, kredit pertambangan dan penggalian masih berisiko. Hal ini karena kondisi global belum membaik. Dia memproyeksikan pertumbuhan bisa lebih baik jika komoditas mulai membaik.

Dia menjelaskan, pertumbuhan kredit secara sektoral memang belum sesuai dengan yang ditargetkan oleh OJK. Contohnya, kredit untuk sektor pertanian, perburuan dan kehutanan tercatat 8,37, industri pengolahan 6,93%, perdagangan besar dan eceran 4,94%, rumah tangga 11,26%, pertambangan dan penggalian -5,15%, konstruksi 19,07% dan transportasi 5,9%.

“Tapi untuk kredit berdasarkan segmen bank masih ditopang dari kredit konsumsi tumbuh 13,04%, ritel 12,82%, korporasi 10,44% dan komersial 4,47%,” jelas dia.

Menurut Iman, masih lambatnya penyaluran kredit juga terjadi karena bank sedang melakukan konsolidasi untuk mengurangi risiko kredit. Misalnya, bank saat ini gencar melakukan restrukturisasi kredit dan hapus buku untuk kredit-kredit bermasalah.

Dia mengungkapkan, tahun depan pertumbuhan kredit diharapkan bisa membaik dan bisa tumbuh di atas 10%. Hal ini karena tahun depan, perekonomian nasional diproyeksikan bisa lebih baik dan mendorong penyaluran kredit atau pertumbuhan dana pihak ketiga di perbankan.

Post Terkait