Rilis Notulen Rapat FOMC Picu Penguatan Rupiah

Rilis notulen rapat FOMC Federal Reserve berhasil mendongkrak nilai tukar rupiah terhadap dolar AS.

Hussein Sayed, Chief Market Strategist FXTM, mengatakan notulen rapat Fed yang dirilis kemarin merefleksikan kekhawatiran itu.

Beberapa anggota Fed menekankan keputusan meningkatkan suku bunga untuk ketiga kalinya pada 2017 harus berdasarkan data ekonomi yang mendukung keyakinan mereka bahwa inflasi akan bergerak menuju target Fed yaitu 2%.

“Dollar bulls tidak menyukai pernyataan ini, walaupun ekspektasi kenaikan suku bunga Desember tetap berada di atas 80% menurut FedWatch Tool CME,” papar Hussein dalam siaran pers, Jumat (13/10/2017).

Alhasil, indeks dolar terus merosot selama lima hari berturut-turut pada Kamis. Dia mencatat total penurunan 1,5% dari level tertinggi 6 Oktober.

Mengingat inflasi telah menjadi metrik ekonomi terpenting yang menentukan arah dolar, dia mengungkap, rilis IHK besok akan sangat dipantau pasar.

“Kejutan positif akan menahan penurunan dolar, tetapi data yang mengecewakan akan menjadi alasan untuk dolar semakin melemah,” papar Hussein.

Menurutnya, inflasi rendah masih menjadi masalah utama bagi ekonomi AS.

Ketua Dewan Gubernur Fed Janet Yellen mengatakannya sebagai sebuah “misteri”.

Jika institusi yang mempekerjakan lebih dari 300 ekonom bergelar PhD tidak mengetahui apakah inflasi rendah ini akan bertahan lama atau sementara, FXTM menyimpulkan, risiko pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut akan menjadi kesalahan serius apabila inflasi tidak kembali ke level normal.

Model kurva Phillips yang mengatakan ada hubungan terbalik yang kuat antara tingkat pengangguran dan inflasi harga rupanya tidak berlaku di sini. “Mungkin sudah saatnya Fed mengabaikan teori ini dan mencari model baru.”

Walaupun pasar finansial masih memperhitungkan kemungkinan Fed akan meningkatkan suku bunga AS sekali lagi pada 2017, pasar berkembang tampaknya mempersiapkan untuk menghadapi hal ini dengan baik.

Salah satu alasannya, lanjutnya, karena inflasi AS yang terus menerus lemah dapat mengakibatkan laju kenaikan suku bunga AS  melambat signifikan setelah 2017.

Sementara itu, Ekonom Bank Permata Josua Pardede melihat stance kebijakan moneter BI cenderung netral dengan mempertahankan tingkat suku bunga acuannya meskipun normalisasi kebijakan moneter the Fed akan dilakukan pada akhir tahun ini.

“Divergensi kebijakan moneter bank sentral global diperkirakan akan mendorong penguatan dollar AS terhadap mata uang global,” ujarnya, Kamis (12/10).

Namun, stance kebijakan BI yang netral juga mempertimbangkan ekspektasi inflasi ke depan yang terjangkar dalam target sasaran inflasi BI, manageable defisit neraca transaksi berjalan.

Selain itu, BI pun sudah memperkirakan sebelumnya the Fed akan menurunkan neraca keuangannya secara gradual dan sudah mempertimbangkan ekspektasi kenaikan suku bunga the Fed.

Selain itu, dia menuturkan, kondisi first line of defense yang diukur dengan cadangan devisa seperti rasio cadangan devisa/M2, cadangan devisa/impor, cadangan devisa/GDP dan cadangan devisa/utang jangka pendek menunjukan pasar keuangan indonesia memiliki buffer yang dapat menahan capital flight dari pasar keuangan Indonesia.

Selain itu, Josua menuturkan, BI juga sudah mengantisipasi second line of defense. “Dengan demikian, rupiah diperkirakan stabil dgn line of defense tersebut di tengah pengetatan kebijakan moneter bank sentral AS,” katanya.

Post Terkait