Penurunan Bunga Kredit Harus Dimulai dari Bank BUMN

Bank-bank Badan Usaha Milik Negara (BUMN) yang merupakan agen pembangunan seharusnya menjadi pionir dalam penurunan suku bunga kredit. Diyakini langkah tersebut akan diikuti oleh perbankan lainnya.

“Bisa sebenarnya, tetapi dengan instrumen yang benar, pemerintah bukan hanya nyuruh,” ungkap Enny Sri Hartati adalah Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) kepada detikFinance,Selasa (26/9/2017).

Instrumen yang benar, kata Enny, adalah dengan memastikan likuiditas untuk perbankan tersebut. Akan tetapi tidak mendobrak mekanisme pasar yang sudah berjalan.

Enny menjelaskan, sekarang perbankan masih berebut simpanan. Tidak hanya dengan sesama perbankan namun juga dengan pemerintah yang menerbitkan surat utang.

Cara yang ditempuh perbankan untuk menarik pemilik dana adalah dengan menawarkan bunga simpanan yang tinggi. Apalagi menurut Enny, pemilik dana besar di negara ini ternyata tidak banyak.

“Kalau sekarang bayangkan saja pemilik dana di RI ini kan itu-itu saja, kalau sudah disedot pemerintah kan otomatis terjadi kekeringan di sektor perbankan,” jelasnya.

Pemerintah bisa mengarahkan kepada BUMN non bank agar menempatkan dana paling besar di perbankan BUMN. Dengan demikian bank tidak direpotkan lagi untuk mencari dana simpanan dengan tawaran bunga tinggi.

“Kalau misalnya diimbau, katakanlah begini, Himbara (Himpunan Bank-bank Milik Negara) turunkan suku bunga. Himbara bisa turunkan suku bunga tetapikan nanti yang gede-gede termasuk BUMN lari ke swasta. Ya enggak bisa Himbara ditekan menurunkan suku bunga kredit,” terang Enny.

Bunga kredit akan selalu berada di atas bunga simpanan, karena ada penghitungan biaya dan risiko ketika menyalurkan kredit. Artinya selama bunga simpanan tinggi, maka bunga kredit juga akan lebih tinggi lagi.

“Untuk bisa mengendalikan kredit yang jangan tinggi-tinggi bunga DPK (Dana Pihak Ketiga). Persoalannya bagaimana tidak tinggi, kalau enggak tinggi enggak kebagian dana, karena sudah diambil banyak oleh pemerintah melalui surat utang,” paparnya.

Di sisi lain, pemerintah juga diharapkan tidak menekan perbankan soal dividen. Sehingga perbankan bisa fokus untuk menekan bunga dan menyalurkan kredit ke masyarakat serta memberikan fasilitas jasa keuangan lainnya.

“Bank Himbara ini kalau diminta peran, dia harus diperlakukan secara proporsional, artinya kalau bank ini melakukan agent of development ya jangan ditekan juga dividennya, jadi ini baru impas,” kata Enny.

Bila hal tersebut sudah terwujud, maka penurunan suku bunga kredit oleh bank BUMN akan diikuti oleh perbankan lainnya. Sebab ini menyangkut kompetisi.

“Nanti bank-bank Himbara ini mulai menurunkan suku bunga maka akan ada persaingan, yang lain tadi akan follow, kalau tidak ya dia akan kalah,” pungkasnya.

Post Terkait