Penundaan Lelang GKR Dinilai Membuat Stok Menipis

Penundaan lelang gula kristal rafinasi (GKR) yang seharusnya diberlakukan Juli 2017 dinilai membuat stok gula semakin menipis. Untuk itu, pemerintah sebaiknya segera merealisasikan kebijakan tersebut.

Peneliti Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Nailul Huda menyayangkan penundaan lelang gula rafinasi. Menurutnya, semakin lama ditunda, stok gula akan semakin tipis. “Kalau terus diundur, ya bisa jadi stok menipis,” kata Huda kepada wartawan Kamis (6/7).

Huda menjelaskan bahwa industri gula memang banyak diincar para pencari rente. Oleh karena itu, kebijakan lelang gula rafinasi sudah tepat karena akan menghilangkan pemburu rente sehingga keadilan tercipta. “Industri gula ini memang banyak yang suka karena margin antarharga dalam negeri dan impor sangat tinggi sehingga menggiurkan pencari rente. Makanya biar adil pemerintah memberlakukan lelang gula rafinasi,” jelas Huda.

Huda juga mempertanyakan perusahaan makanan dan minuman (mamin) serta sejumlah anggota DPR yang menolak kebijakan yang cukup transaparan ini.

Sementara ekonom Indef lainnya Bhima Yudistira menilai kebijakan pemerintah lelang gula kristal rafinasi untuk mendapatkan harga gula terbaik. “Model lelang ini juga sebagai upaya menyelesaikan masalah rembesan GKR ke pasar konsumsi. Melalui lelang harga lebih adil, kemudian tata niaga diperbaiki, petani kecil bisa akses,” ujar Bhima.

Pemerintah melalui Kementerian Perdagangan (Kemdag) memutuskan untuk menunda pelaksanaan skema lelang GKR karena masih memerlukan sosialisasi mendalam bagi pelaku usaha. Diketahui, PT. Pasar Komoditas Jakarta (PKJ) ditetapkan sebagai penyelenggara pasar lelang GKR oleh Kementerian Perdagangan. Sesuai Peraturan Menteri Perdagangan No.16/M-DAG/PER/3/2017, penyelenggaraan pasar lelang GKR dilaksanakan 90 hari kerja sejak diundangkan pada 17 Maret 2017.

Pasar lelang GKR merupakan pasar lelang elektronik yang menyelenggarakan transaksi jual beli GKR secara online dan real timedengan metode permintaan beli (bid) dan penawaran jual (offer). Volume penjual atau pembeli sebanyak satu ton, lima ton, dan 25 ton.

Skema lelang gula kristal rafinasi bertujuan memberikan akses yang sama antara pelaku usaha kecil dengan industri besar. Selama ini, usaha skala kecil banyak mendapatkan bahan baku gula dengan harga lebih tinggi, sementara industri besar mendapatkan dengan harga lebih murah. “Dengan sistem lelang, maka pengadaan gula rafinasi lebih transparan dan setiap pengusaha memiliki kesempatan sama. Lelang menjamin industri kecil menengah dapat pasokan GKR dengan harga wajar,” kata Ketua Koperasi Ritel Tambun, Suyono.

Para pelaku usaha pernah menyatakan belum siap dengan skema tersebut. Mereka khawatir adanya kenaikan biaya yang ditanggung, sementara industri makanan minuman saat ini dalam kondisi lesu.

Post Terkait