Penjualan Rumah Bekas di Jabodetabek Naik 35%

Penjualan rumah sekunder atau bekas pada area Jabodetabek tercatat mengalami kenaikan pada sepanjang semester pertama tahun ini. Berdasarkan data yang diolah tim Business Intelligence situs properti Rumah123, penjualan rumah bekas yang ada di area Jabodetabek mencapai kenaikan 7% dibanding semester sebelumnya dan 35% dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya (year on year).

“Secara nasional, penjualan masih naik 7% di semester terakhir, yoy 35% naik. Biarpun growth-nya mulai turun. Kenapa? Biasanya memang begitu, kalau kurva ekonomi, penetrasi marketnya sudah tinggi, growth tidak bisa tinggi lagi. Makin lama dia beroperasi, makin turun makin turun growth-nya. Tapi masih naik. Jadi kita masih lihatnya ini angka cukup bagus,” kata Country Manager Rumah123, Ignatius Untung, dalam keterangannya seperti dikutip di Jakarta, Sabtu (26/8/2017).

Dari data penjualan rumah bekas yang masih mengalami pertumbuhan, diprediksi adanya ketidakselarasan pada isu daya beli yang melemah. Menurutnya, adanya pertumbuhan penjualan rumah bekas menunjukkan adanya kemampuan daya beli masyarakat untuk harga yang terhitung lebih tinggi.

“Karena rumah ini, satu dari sedikit barang yang makin bekas makin naik harganya. Jadi buat mereka, enggak ada masalah, beli properti baru dipakai dan jadi bekas, harganya tetap naik. Jadi menariknya itu,” tutur Untung.

Sementara dari segi permintaan, yang dilihat dari data pencarian pada situs yang merupakan anak usaha REA Group Australia ini, juga tercatat mengalami pertumbuhan.

“Jadi kalau Semester I-2017 dibandingkan Semester II-2016, itu masih 64% naiknya (jumlah pencarian). Kalau periode yang sama tahun sebelumnya, Semester I tahun ini dibanding Semester I tahun lalu masih naik 48%,” ujar Untung.

Tak hanya pencarian, pengajuan KPR juga terlihat meningkat dengan tren yang juga menarik. Pengaju KPR didominasi usia 30-39 tahun. Sekitar 46,86% pengaju KPR berada di rentang usia tersebut, dengan 16,47% di antaranya adalah mereka yang berpenghasilan Rp 5-9 juta per bulannya.

“Dengan rata-rata penghasilan tersebut, plafon kredit yang paling banyak disasar maksimal sebesar Rp 250 juta. Posisi berikutnya masih ditempati nasabah di rentang usia yang sama, namun memiliki penghasilan antara Rp 10-19 juta. Untuk golongan ini, plafon kredit yang menjadi incaran adalah Rp 250-500 juta,” pungkasnya.

Post Terkait