Pengamat Ini Sebut Dolar AS Harusnya Rp 13.500, Bukan Rp 13.300

Dolar Amerika Serikat (AS) yang sampai Rp 13.500 ternyata merupakan level yang sesuai dengan fundamental ekonomi Indonesia. Bila kembali ke Rp 13.300, justru rupiah terlalu kuat.

“Rp 13.500 fundamental kita. Nah Rp 13.300 itu terlalu kuat,” ungkap Ekonom PT Bank Central Asia Tbk (BCA), David Sumual kepada detikFinance, Rabu (4/10/2017).

David sudah memperkirakan posisi tersebut sejak awal tahun. Menurutnya, dengan rupiah yang sesuai fundamental, maka tepat bagi kalangan investor hingga pelaku perdagangan.

“Kalau Rp 13.300 atau Rp 13.200 itu yang untung cuma importir,” jelasnya.

Pelemahan nilai tukar rupiah sejalan dengan mata uang di banyak negara. Ini dikarenakan sentimen eksternal, khususnya AS. Antara lain Presiden AS Donald Trump yang akan melakukan reformasi pajak dan rencana pergantian pimpinan Bank Sentral AS, Federal Reserve (The Fed).

Menurut David, rupiah berpotensi kembali menguat. Namun diharapkan tidak kembali sentuh Rp 13.300. “Bisa saja menguat tapi jangan sampai ke Rp 13.300 lagi,” terang David.

Dari sisi volatilitas, David menilai cukup baik. Dalam rentang 2 tahun terakhir, tingkat volatilitas di bawah 2%. Artinya rupiah masih bergerak stabil. “Hal ini cukup bagus,” tegasnya.

Post Terkait