Pemerintah Terbitkan Surat Utang Halal Rp 40 T, untuk Apa Saja?

Kementerian Keuangan mengungkapkan pemerintah telah menerbitkan surat berharga syariah negara (SBSN) global atau Sukuk Wakalah sebesar US$ 3 miliar atau setara dengan Rp 40,5 triliun (kurs Rp 13.500).

Menteri Keuangan RI Sri Mulyani Indrawati menyebutkan Sukuk tersebut diterbitkan untuk jangka waktu 5 tahun sebesar US$ 1,25 miliar dan tenor 10 tahun senilai US$ 1,75 miliar.

Menurut dia, sukuk global ini diterbitkan menggunakan prinsip syariah, menggunakan struktur Wakalah dengan underlying berupa (i) barang milik negara berupa tanah dan bangunan (51%) dan (ii) proyek pemerintah (49%).

“Sukuk ini digunakan untuk kebutuhan pembiayaan proyek infrastruktur pemerintah Rp 8,2 triliun yang masuk kategori green,” ujar Sri Mulyani di Kemenkeu, Jakarta, Senin (26/2/2018).

Menurut dia untuk green project ini akan dilakukan dan telah dilakukan di 4 kementerian/lembaga yakni Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Kementerian Perhubungan, Kementerian Pertanian dan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM).

Proyek-proyek yang ada di Kementerian PUPR antara lain pengendalian banjir, pengelolaan drainase utama di perkotaan dan pengamanan pantai senilai Rp 501 miliar. Selanjutnya untuk proyek di Kementerian perhubungan akan digunakan untuk pengelolaan prasarana dan fasilitas pendukung kereta api dengan kategori medium dan dark green sebesar Rp 165 juta.

Sedangkan untuk kementerian ESDM akan digunakan untuk pembangunan infrastruktur energi melalui pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) dengan dark green senilai Rp 743 miliar dan peningkatan kesehatan lingkungan pemukiman dan sistem pengolahan drainase masuk dalam kategori medium dan dark green Rp 149 miliar.

Setelah serangkaian pertemuan dengan investor yang mencakup pusat keuangan di Asia, Eropa dan Timur Tengah, Sukuk Wakalah menarik minat dari berbagai investor, baik di dalam maupun di luar negeri, dengan Sukuk Wakalah tenor 5 tahun berhasil didistribusikan kepada 32% investor syariah (Timur Tengah dan Malaysia). Kemudian 10% di Indonesia, 25% di Asia (kecuali Indonesia dan Malaysia), 18% di Amerika Serikat dan 15% di Eropa.

Sementara itu, Sukuk Wakalah tenor 10 tahun didistribusikan 24% kepada investor syariah (Timur Tengah dan Malaysia), 10% di Indonesia, 12% di Asia (terkecuali Indonesia dan Malaysia), 22% di Amerika Serikat dan 32% di Eropa.

Kemudian Alokasi berdasarkan jenis investor untuk Sukuk Wakalah tenor 5 tahun adalah 29% untuk reksa dana, 40% untuk bank, 20% untuk bank sentral dan sovereign wealth fund, 10% untuk perusahaan asuransi dan dana pensiun dan 1% untuk private bank.

Untuk tenor 10 tahun, 47% untuk reksa dana, 39% untuk bank, 7% untuk bank sentral dan sovereign wealth fund, 6% untuk perusahaan asuransi dan dana pensiun dan 1% untuk private bank.

Abu Dhabi Islamic Bank PJSC, Citigroup (B&D), CIMB, Dubai Islamic Bank PJSC and HSBC bertindak sebagai green structuring advisor dan joint lead managers hingga joint bookrunner. Bahana Sekuritas, Danareksa Sekuritas, Trimegah Sekuritas Indonesia bertindak sebagai co-managers untuk transaksi ini.

Post Terkait