Pelemahan Dolar AS Beri Tenaga Penuh pada Harga Emas

Harga emas memperpanjang kenaikan ke level tertinggi dalam tiga bulan pada perdagangan Jumat, dan melompat ke kenaikan tahunan terbesar dalam tujug tahun.

Penyebab utama melambungnya harga emas ini karena nilai tukar dolar AS melemah. Ketegangan politik dan kekhawatiran dampak kenaikan suku bunga membuat harga emas reli.

Mengutip Reuters, Sabtu (30/12/2017), harga emas di pasar naik 0,67 persen ke US$ 1.303,37 per ons pada pukul 2:05 siang waktu New York. Sedangkan harga emas berjangka AS ditutup naik US$ 12,1, atau 0,93 persen ke level US$ 1.309,30 per ounce.

Penyebab utama kenaikan harga emas adalah pelemahan dolar AS. Dalam beberapa bulan terakhir memang dolar AS mengalami tekanan yang tak pernah berhenti.

Sentimen yang melemahkan nilai tukar dolar AS adalah ketegangan antara Amerika Serikat dalam hal ini adalah Presiden Donald Trump dengan Korea Selatan. Pihak Pyongyang terus melakukan uji coba rudal yang dianggap ajakan perseteruan oleh AS.

Selain itu, sentimen lain yang mempengaruhi harga emas adalah adanya penyelidikan keterlibatan Rusia saat kampanye pemilihan Presiden AS tahun lalu. Diduga pihak Rusia mengadakan pembicaraan dengan pihak Trump.

“Dan tentu saja pertemuan Bank Sentral AS yang mengeluarkan pernyataan akan sedikit dovish sehingga menjadi angin segar kepada pasar komoditas,” jelas David Meger, Direktur Perdagangan Logam Mulia High Ridge Futures di Chicago.

Prediksi 2018

Logam mulia di tahun depan akan sedikit rentan terhadap pembalikan atau penguatan dolar AS. analis ABN Amro Georgette Boele menjelaskan, dolar AS diperkirakan akan berbalik arah pada tahun depan karena perbaikan ekonomi AS sehingga akan menekan komoditas.

Oleh sebab itu, ia pun menyarankan agar investor benar-benar menghitung investasi mereka dan jangan sampai apa yang didapat di tahun ini akan lenyap pada tahun depan.

Namun menurut tim teknis ScotiaMocatta dalam sebuah catatan, harga emas masih akan positif meskipun tidak akan mulus. Diperkirakan pada tahun depan akan menyentuh US$ 1.306 per ounce yang ditargetkan tercapai pada bulan Oktober.

Post Terkait