Orang AS Sulit Terbuka soal Masalah Keuangan, Kenapa?

Para ahli mengatakan berbicara tentang uang dapat mengetahui bagaimana memakai dan mengelola uang. Namun 68 persen orang Amerika Serikat (AS) mengatakan kalau mereka lebih suka membicarakan berat badan ketimbang uang.

Hal itu berdasarkan survei yang dilakukan perusahaan aplikasi investasi Acorns yang survei lebih dari 3.000 orang Amerika Serikat berusia 18-44 tahun.

“Berbicara soal uang itu memalukan secara budaya. Semua orang membutuhkannya, dan kontrolnya sangat banyak, tapi tidak ada yang mau membicarakannya,” ujar CEO Varo Money Colin Walsh, seperti dikutip dari laman Moneyish, yang ditulis Selasa (30/1/2018).

Lalu mengapa sulit bagi orang AS membicarakan uang? Cara berpikir sekolah lama yang mungkin bisa jadi penyebabnya. Dalam buku etika sopan santun Etiquette In Society, In Business, In Politics, and At Home yang ditulis oleh Emily Post mengatakan kalau seseorang sebaiknya menjaga soal keuangan mereka secara pribadi.

Sementara itu, Psikiater Kirsten Thompson mengatakan, kalau dalam budaya AS, uang bukan hanya kebutuhan dasar tetapi juga ukuran kesuksesan.

“Ketika orang tidak merasa seolah-olah mengukurnya, bahkan dengan standar mereka sendiri, sering kali kecemasan memprovokasi untuk membicarakannya. Apun pun hal yang digabung dengan nilai kita sebagai manusia juga sering kali sulit didiskusikan dengan mudah,” jelas dia.

Berdasarkan gender, perempuan memiliki waktu lebih sulit lagi untuk menghadapi masalah ini. Berdasarkan studi Fidelity Investments Money Fit Women Study menyatakan, kalau 56 persen perempuan mengatakan menahan diri untuk tidak membahas masalah keuangan.

Hal itu karena sesuatu yang terlalu pribadi. Sedangkan 27 persen juga mengatakan kalau dididik untuk tidak membicarakan soal uang kepada orang lain. Sedangkan 10 persen mengatakan kalau mereka tidak tahu bagaimana membicarakannya secara cerdas.

Sedangkan sekitar 47 persen, perempuan ragu untuk berbicara tentang uang dan investasi. Padahal membicarakan soal uang juga dapat memberi manfaat. Ahli keuangan NerdWallet Brianna McGurran mengatakan, berbicara tentang uang membuka kemungkinan seseorang dapat menemukan kesamaan.

“Misalkan Anda mungkin merasa sendirian saat melihat pembayaran pinjaman dana pendidikan hampir selalu menghabiskan tabungan Anda. Tapi belajar dari teman Anda bisa merasakan hal yang sama dan menghilangkan kesepian itu,” kata dia.

Survei: Khawatir soal Uang Jadi Penyebab Perceraian

Sebelumnya, kekhawatiran terhadap kondisi keuangan menjadi salah satu penyebab utama masalah pernikahan. Bahkan dapat sebabkan pernikahan berantakan. Hal itu berdasarkan survei terbaru oleh firma hukum di Inggris.

Sebuah jajak pendapat dilakukan oleh firma hukum Slater dan Gordon kepada lebih dari 2.000 orang dewasa menemukan kalau kekhawatiran soal uang menjadi salah satu alasan mengapa pasangan suami istri berpisah. Satu dari lima orang mengatakan kalau penyebab terbesar dari perselisihan pernikahan yaitu soal uang.

Bahkan ada julukan hari perceraian oleh pengacara pada hari pertama masuk kerja di tahun baru lantaran meningkatnya jumlah orang yang ingin akhiri pernikahan mereka usai alami tekanan usai Natal dan Tahun Baru.

“Hubungan yang sudah menunjukkan keretakan cenderung terjadi di bawah tekanan dan biaya tambahan saat Natal,” ujar Lorraine Harvey, Pengacara di firma Slater dan Gordon, seperti dikutip dari laman the Independent, Kamis 11 Januari 2018.

Lebih dari sepertiga responden mengatakan, kalau tekanan keuangan merupakan tantangan terbesar bagi pernikahan mereka. Sedangkan seperlima menyatakan kalau sebagian mereka berargumen soal uang.

Satu dari lima orang yang disurvei menyatakan kalau menyalahkan pasangan mereka atas kekhawatiran kondisi keuangan. Sisi lain menuduh pasangan boros dan gagal menganggarkan penghasilan dengan benar.

Berdasarkan data biro statistik nasional di Inggris menunjukkan kalau 107 ribu pasangan bercerai pada 2016, naik 5,6 persen dari tahun sebelumnya.

“Uang menjadi masalah umum, jika seseorang merasa kalau pasangan mereka tidak menarik secara finansial,hal itu dapat memicu kemarahan,” ujar Harvey.

Ia menambahkan, banyak pasangan berusaha mempertahankan pernikahannya, akan tetapi tekanan tambahan dan persepsi orang lain di sekitar mereka bahagia, hal itu akan semakin sulit. Bahkan hal tersebut terburuk untuk mencoba mempertahankan pernikahan.

Post Terkait