Orang RI Belum Anggap Asuransi Jadi Kebutuhan Pokok

Jika dibandingkan dengan negara tetangga, tingkat literasi dan kepesertaan asuransi di Indonesia relatif rendah. Namun meski begitu, pertumbuhan dari premi asuransi setiap tahun cukup signifikan.

Ketua Umum Dewan Asuransi Indonesia (DAI), Hendrisman Rahim, mengatakan rendahnya tingkat penetrasi asuransi di Indonesia bisa dilihat dari perbandingan jumlah premi dengan total Gross Domestic Product (GDP) Indonesia yakni sebesar 1,7%.

“Penetrasi asuransi di Indonesia memang masih kecil yaitu 1,7% dari GDP, itu data terakhir di 2016. Kalau lihat dari angka itu memang kecil, karena populasi kita kan besar. Kalau lihat Singapura saja sebenarnya dibanding GDP juga baru 5%,” ungkap Hendrisman ditemui di Menara Permata, Jakarta, Selasa (16/10/2017).

“Kalau dari kesadaran (manfaat) asuransi memang minim. Tahun 2011 dari data tingkat literasi (pemahaman) OJK itu 18% orang sudah paham asuransi, tapi cuma 1% yang sudah beli asuransi,” imbuhnya.

Dia menuturkan, penyebab rendahnya kesadaran masyarakat di Indonesia ikut asuransi karena berbagai hal. Seperti anggapan asuransi yang bukan kebutuhan pokok.

“Pertama itu, belum banyak orang anggap asuransi kebutuhan pokok, dan kedua belum banyak orang tahu manfaat asuransi. Dan ketiga belum banyak perusahaan asuransi yang bisa menjangkau masyarakat di Indonesia, kita penduduknya besar sekali,” jelas Hendrisman.

Kendati begitu, Dirut Jiwasraya ini berujar, secara pertumbuhan premi, Indonesia relatif cukup tinggi.

“Industri asuransi jiwa itu growing setiap tahun selalu di atas 10%, bahkan sampai 30%. Kalau asuransi umum growingminimal 10%, jadi ini berkembang terus,” pungkas Hendrisman.

Post Terkait