Orang Kaya di AS Paling Khawatir soal Dana Pensiun

Orang kaya juga khawatir soal kondisi keuangannya terutama saat masa pensiun. Ini juga dialami oleh orang kaya di Amerika Serikat (AS). Mereka khawatir apakah dana pensiun yang dimiliki cukup untuk menikmati masa tua.

Berdasarkan survei dari Personal Capital dan ORC International, sekitar 51 persen orang yang punya aset investasi US$ 500 ribu atau sekitar Rp 6,77 miliar (asumsi kurs Rp 13.577 per dolar Amerika Serikat) menyatakan kalau khawatir apakah dananya aman saat pensiun. Demikian mengutip Marketwatch, Sabtu (23/12/2017).

Survei itu dilakukan terhadap 1.000 kaya di AS yang fokus terhadap perencanaan keuangan. Selain itu apa hal lainnya yang jadi perhatian utama di kalangan orang kaya? 46 persen khawatir kalau portofolio investasi mereka tidak dioptimalkan dengan benar. Sekitar 42 persen khawatir tidak tahan terhadap penurunan pasar.

Adapun kekhawatiran orang kaya AS itu juga tak lepas dari penurunan aset lantaran krisis keuangan dan gelembung dot.com. Meski demikian, masyarakat AS berpenghasilan tinggi berusaha untuk mempersiapkan dana pensiun lebih baik. Di sisi lain, banyak masyarakat AS tidak memiliki persiapan dana pensiun.

Bahkan hanya sekitar dua pertiga pekerja sektor swasta di AS yang memiliki akses seperti dana pensiun atau jaminan hari tua, dan bahkan sedikit yang mendaftar.

1 Persen Orang Kaya Kuasai Separuh Kekayaan Dunia

Sebelumnya, kesenjangan antara orang kaya dan orang miskin kian meningkat. Laporan lembaga keuangan global, Credit Suisse menunjukkan, setengah kekayaan di dunia ini berada pada 1 persen orang kaya di dunia.

Orang kaya di seluruh dunia mengalami peningkatan komposisi kekayaan dari 42,5 persen pada krisis keuangan 2008 menjadi 50,1 persen pada 2017, senilai US$ 140 triliun (£ 106 triliun). Ini menurut laporan global dari Credit Suisse yang dipublikasikan The Guardian, Minggu 17 November 2017.

“Sebanyak 1 persen share telah meningkat sejak krisis, melewati level pada tahun 2013 dan mencapai puncak baru setiap tahunnya,” menurut laporan tahunan tersebut.

Laporan tersebut juga mengatakan bahwa ketidaksetaraan kekayaan global mencapai titik tertinggi dan terus meningkat pada periode pascakrisis.

Peningkatan kekayaan di antara orang yang sudah kaya menyebabkan terciptanya 2,3 juta jutawan baru sepanjang tahun lalu. Jumlah totalnya mencapai 36 juta.

“Jumlah jutawan yang turun pada tahun 2008, kembali naik setelah krisis keuangan, dan sekarang hampir tiga kali lipat pada tahun 2000,” kata penjelasan Credit Suisse.

Jutawan ini — yang menyumbang 0,7 persen populasi orang dewasa di dunia — menguasai 46 persen dari total kekayaan global yang sekarang mencapai US$ 280 triliun.

Di sisi lain, sebanyak 3,5 miliar orang miskin di dunia hanya memiliki aset kurang dari US$ 10.000 (£ 7.600). Secara keseluruhan, orang-orang ini, yang menyumbang 70 persen populasi usia kerja di dunia, hanya terhitung 2,7 persen dari kekayaan global.

Laporan keuangan tersebut juga mengatakan bahwa penduduk miskin banyak ditemukan di negara-negara berkembang, dengan lebih dari 90 persen orang dewasa di India dan Afrika yang berpenghasilan kurang dari US$ 10.000.

“Di beberapa negara berpenghasilan rendah di Afrika, persentase penduduk di kelompok ini mendekati 100 persen,” melansir laporan tersebut.

“Bagi banyak penduduk di negara berpenghasilan rendah, kebutuhan dasar hidup merupakan norma yang tidak bisa dijadikan pengecualian.”

Sementara itu, di puncak piramida kekayaan global, 36 juta orang dengan kekayaan minimal US$ 1 juta secara keseluruhan bernilai US$ 128.7 triliun. Lebih dari dua per lima jutawan dunia tinggal di AS, diikuti Jepang dengan komposisi 7 persen, dan Inggris dengan 6 persen.

Namun, jatuhnya nilai pound sterling sejak voting Brexit menandakan jumlah jutawan di Inggris turun sebanyak 34.000 menjadi 2,19 juta.

Lebih dari 51 juta orang dewasa di Inggris sejauh ini memiliki kekayaan lebih dari US$ 100.000. Kekayaan rata-rata orang dewasa Inggris adalah US$ 278.038, tapi mediannya adalah US$ 102.641.

Post Terkait