OECD Revisi Proyeksi Pertumbuhan Ekonomi Global 2017 Jadi 3,6%

Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3,6% di tahun dan 3,7% pada 2018.

“Perekonomian dunia telah menguat, dengan stimulus moneter dan fiskal mendasari peningkatan dalam tingkat pertumbuhan dan sinkronisasi berbasis luas pada hampir seluruh negara,” kata Organisasi yang berbasis di Paris itu.

Diperkirakan, pertumbuhan yang kuat di negara-negara utama Eropa akan mendorong angka zona euro lebih tinggi menjadi 2,4% pada 2017 dan 2,1% pada 2018, katanya.

“Proyeksi yang direvisi mencerminkan kinerja yang lebih kuat dari perkiraan pada paruh pertama 2017, dalam konteks meningkatnya lapangan kerja, kebijakan moneter yang akomodatif serta pertumbuhan konsumsi dan investasi yang lebih kuat,” kata OECD.

Bagi Inggris, organisasi tersebut melukiskan prospek yang beragam karena perlambatan pertumbuhan terus berlanjut hingga 2018 menyusul “berlanjutnya ketidakpastian mengenai hasil perundingan seputar keputusan untuk meninggalkan Uni Eropa, dan dampak inflasi yang lebih tinggi terhadap daya beli rumah tangga.”

Dalam prospek ekonomi terbarunya, organisasi yang berbasis di Paris itu mengatakan “ekspansi di negara-negara emerging markets sedang membaik didukung oleh investasi infrastruktur baru di Tiongkok dan pemulihan dari resesi di negara-negara pengekspor komoditas utama.” Karena “rebalancing yang sedang berlangsung dalam model pertumbuhan Tiongkok,” pertumbuhan di Beijing diproyeksikan 6,8% pada 2017, 6,6% pada 2018, naik 2 persentase poin dari laporan sebelumnya.

“Pertumbuhan telah meraih momentum dan prospek jangka pendek positif,” kata Sekretaris Jenderal OECD Angel Gurria.

Namun, dia memperingatkan bahwa “masih ada kelemahan dan kerentanan yang jelas,” menekankan “kebutuhan untuk fokus pada tindakan struktural dan fiskal guna meningkatkan potensi jangka panjang karena dukungan kebijakan moneter berkurang.” “Negara-negara harus menerapkan paket reformasi yang mengkatalisasi sektor swasta untuk meningkatkan produktivitas, upah lebih tinggi dan pertumbuhan yang inklusif,” tambahnya.

Post Terkait