Nilainya Melambung, BI Ingatkan Bitcoin Bukan Alat Pembayaran Sah

Bank Indonesia (BI) menegaskan jika Bitcoin bukan merupakan alat pembayaran yang sah. Masyarakat diminta untuk berhati-hati jika menggunakan mata uang virtual ini.

Gubernur BI Agus Martowardojo mengatakan, pihaknya sebagai otoritas mata uang di Indonesia telah menyatakan jika Bitcoin tak masuk dalam kategori alat pembayaran yang sah. Sehingga penggunaannya diawasi secara ketat.

“Itu bukan alat pembayaran. Kalau mau nanya tentang Bitcoin perlu memahami posisi dari otoritas adalah mengarahkan itu bukan alat pembayaran yang sah,” ujar dia di Jakarta, seperti ditulis Jumat (1/12/2017).

Agus menyatakan, penggunaan Bitcoin juga akan menimbulkan risiko bagi masyarakat. Karenanya, BI mengimbau masyarakat untuk menggunakan mata uang diakui oleh BI dan pemerintah.

“Saya mau menyampaikan, itu adalah bukan alat pembayaran yang sah. Jadi semua yang akan mau menggunakan Bitcoin itu ada risikonya ya,” tandas dia.

Diberitakan sebelumnya, Bitcoin capai level tertinggi US$ 11.000. Usai sentuh level tertinggi US$ 11.388,33, bitcoin tergelincir 18 persen menjadi US$ 9.290,30 pada Rabu 29 November 2017.

Nilai Bitcoin

Mengutip laman CNBC, Kamis (30/11/2017), bitcoin mencoba bergerak ke level US$ 10.000, dan akhirnya diperdagangkan di posisi US$ 9.725. Perdagangan Bitcoin sangat volatile lantaran berkuang untuk ikuti kenaikan permintaan.

Di tengah pergerakan nilai bitcoin yang volatiledan sentuh level tertinggi sejumlah pihak memberikan pandangannya mengenai bitcoin. Bubble, ponzi, tulip menjadi salah satu kata yang digunakan bagi pengkritik kripto selama setahun terakhir.

Ini mengingat bitcoin berada di posisi US$ 1.000, kini level tertinggi mencapai US$ 10.000. CEO JP Morgan Jamie Dimon menuturkan, mata uang digital hanya sementara.

Bitcoin membukukan pengembalian untung lebih dari 900 persen sejak awal 2017. Salah seorang trader mengatakan kenaikan bitcoin pada 2017 termasuk yang terbesar yang pernah dia lihat lebih dari 40 tahun bekerja di bidang keuangan.

David Shrier, Akademisi dan CEO Distilled Analytics menuturkan, pihaknya sama sekali tidak ragu ada spekulasi yang terjadi dengan mata uang digital. Namun hal itu bukan hal buruk.

“Ada cukup utilitas dan utilisasi bitcoin sehingga akan mempertahankan nilai bahkan jika harganya berkurang. Amazon tidak sentuh level US$ 0 saat gelembung dotcom meledak demikian juga bitcoin tidak akan sentuh posisi nol,” ujar dia.

Dominic Williams, Ilmuwan DFNITY Project juga skeptis mengenai mata uang digital. Ada kemungkinan kecil proyek memegang initial coin offering (ICO) dapan sukses. ICO merupakan cara bagi perusahaan untuk mengumpulkan dengan imbalan uang konvensional dan digital. Hal ini berbeda dengan saham yang diberikan kepada investor. Namun sebagai gantinya bisa diperdagangkan dan digunakan untuk perusahaan.

“Sebagian besar telah diciptakan secara khusus dengan ambisi mengumpulkan uang dari investor yang antusias dari pada memberikan utilitas di dunia nyata,” kata dia.

Post Terkait