Minta Subsidi Pupuk Dikaji Ulang, IPB: Lebih Baik Digunakan untuk Infrastruktur Pertanian!

Rektor Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto dihadapan Presiden Joko Widodo (Jokowi) hari ini memberikan sejumlah pandangan terhadap pembangunan pertanian di Indonesia. Hal ini disampaikan pada Sidang Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-54 Institut Pertanian Bogor.

Salah satu hal yang disoroti adalah subsidi pupuk sepanjang tahun 2017 ini. Pemerintah melalui Kementerian Pertanian pada tahun ini telah mengalokasikan anggaran sebesar Rp31,33 triliun untuk subsidi pupuk bagi petani.

BERITA REKOMENDASI

Hanya saja, menurut Herry Suhardiyanto, program subsidi pupuk ini perlu dirancang ulang. Subsidi sebaiknya digunakan untuk peningkatan kesejahteraan petani secara langsung.

“Peningkatan kesejahteraan petani perlu diutamakan dari pada peningkatan produksi,” ujarnya di Graha Widya Wisuda, Kampus IPB, Bogor, Rabu (6/9/2017).

Menurutnya, subsidi lebih baik digunakan untuk pembangunan infrastruktur sektor pertanian. Hal ini akan lebih memberikan dampak kepada kesejahteraan petani dalam jangka panjang.

“Lebih baik digunakan kepada sistem irigasi lokal, sistem agro logistik, jaringan jalan, dan sebagainya,” ujarnya.

Selain pupuk, Rektor IPB juga turut menyampaikan gagasannya tentang kurikulum pendidikan. Menurutnya, kurikulum pendidikan diharapkan dapat berkembang sesuai kebutuhan tanpa adanya kendala akreditasi. Hal ini perlu dilakukan untuk mengantisipasi perkembangan teknologi.

Tak hanya itu, program tol laut juga turut menjadi perhatian dalam Sidang Terbuka ini. Program tol laut diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi ekonomi Indonesia.

“Dalam jangka panjang tol laut akan merajut kemerdekaan yang ada,” ungkapnya.

Pada kesempatan ini, juga disinggung keberhasilan IPB dalam mengembangkan benih bibit padi unggul jenis IPB3S. Bibit ini dinilai tangguh dalam menghadapi serangan hama.

Sekira 180 ton pun siap disebarkan kepada berbagai daerah. Bibit ini dapat menghasilkan sekira 30.000 benih untuk sawah seluas 1 juta hektar.

“Berdasarkan rata-rata hasil panen pada beberapa daerah, hasilkan 8,4 ton gabah kering panen per hektare. Maka dengan perhitungan 7 juta ton, setiap luas 1 juta ha dapat hasilkan 7 juta ton Gabah Kering Panen,” ujarnya.

Varietas lainnya juga turut dikembangkan oleh IPB. Beberapa di antaranya adalah padi rawa hingga padi gogo.

Selain padi, Indonesia juga memiliki potensi pada pengembangan perkebunan buah-buahan. Diharapkan, pemerintah dapat mendukung semua upaya pengembangan produk ini.

“Ke depan perlu dukungan kebijakan untuk mengembangkan seperti skema kredit dan suku bunga untuk ekspor,” ujarnya.

Post Terkait