Menteri Rini: Rupiah Jatuh karena AS, Bukan Fundamental Ekonomi RI Jelek

Menteri Badan Usaha Milik Negara (BUMN), Rini Soemarno, menyatakan pelemahan nilai tukar bukan hanya terjadi pada rupiah, tapi juga mata uang lain di dunia. Pemerintah tidak khawatir dengan kondisi akan berdampak pada beban utang luar negeri dari sejumlah perusahaan pelat merah lantaran sudah menerapkan lindung nilai (hedging).

“Yang dilakukan Amerika dengan (rencana) menaikkan suku bunga ini, bukan saja rupiah yang melemah, tapi seluruh mata uang dunia juga melemah,” kata Rini di Larantuka, Kamis (8/3/2018).

Rini menyebut, pelemahan nilai mata uang di Benua Biru malah lebih hebat ketimbang rupiah.

“Pound sterling, mata uang Uni Eropa, itu melemahnya lebih tinggi daripada rupiah. Ini menjadi satu keadaan dunia yang harus hati-hati dan dijaga,” jelas dia.

Lebih jauh, kata Rini Soemarno, pelemahan rupiah lebih disebabkan kebijakan Amerika Serikat (AS) maupun The Fed yang berkomitmen menaikkan suku bunga acuan di 2018. Hal ini berdampak ke seluruh dunia, dan bukan karena persoalan buruknya perekonomian Indonesia.

“Jadi kalau dilihat dari fundamental perekonomian Indonesia tidak jelek,” kata dia.

Rini menegaskan, Kementerian BUMN mendorong perusahaan pelat merah untuk melakukan lindung nilai sehingga utang dalam valuta asing (valas) tetap terjaga. Dalam hal ini, pihaknya menggandeng Bank Indonesia (BI).

“Kita pada dasarnya kalau pinjaman dalam mata uang asing kebanyakan saya teruskan dari tahun ke tahun dan akhir-akhir ini selalu bekerja sama dengan BI mencoba mengenakan lindung nilai. Itu kita penuhi,” tutup Rini Soemarno.

Rupiah Jatuh, Pemerintah Tak Khawatir Beban Utang RI Naik

Pemerintah menyatakan tak khawatir dengan dampak pelemahan nilai tukar rupiah terhadap utang luar negeri Indonesia. Pasalnya, volatilitas rupiah diklaim hanya bersifat sementara.

“Utang tidak ada masalah, beban utang kita dibandingkan negara lain di dunia ini tidak tinggi,” kata Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Darmin Nasution di kantornya, Jakarta, pada 7 Maret 2018.

Meski begitu, mantan Gubernur Bank Indonesia (BI) ini mengaku laju pertumbuhan utang Indonesia dibandingkan beberapa tahun lalu memang lebih cepat. Ini karena Presiden Joko Widodo (Jokowi) memerintahkan percepatan pembangunan infrastruktur.

“Kenaikan utang cepat karena bangun infrastruktur juga banyak. Bisa saja tidak usah naik utangnya secara cepat tapi infrastruktur jangan banyak bangun, pilih mana? Tidak ada apa-apa kok, kalian merasa sakit kalau utang naik cepat, enggak kan,” ujar Darmin.

Sementara itu, Deputi Gubernur Senior BI, Mirza Adityaswara mengatakan memang saat ini nilai tukar rupiah terhadap dolar AS sudah undervalue atau di bawah nilai fundamental.

“Sebelum mengalami fluktuasi, rupiah itu sudah undervalue sebenarnya,” kata Mirza.

Mirza menambahkan, fluktuasi rupiah tersebut jelas bukan karena sentimen domestik, melainkan sentimen dari global, khususnya Amerika Serikat (AS). Secara spesifik, rupiah bergejolak karena banyaknya spekulan jelang FOMC Meetings pada Maret 2018.

Dalam pertemuan tersebut, diperkirakan The Fed akan menaikkan suku bunganya yang pertama kali pada 2018. Lalu berapa sebenarnya nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang ideal?

“Level (rupiah) Rp 13.200-13.300 per dolar AS, ini yang lebih cocok. Sekarang agak overshoot,” tegas Mirza.

Post Terkait