Mal Sepi dan Banyak Toko Tutup, Picu Penurunan Penjualan Listrik

PT Perusahaan Listrik Negara (persero) mencatat, penjualan listrik tahun ini cenderung turun dibandingkan tahun sebelumnya. Berdasarkan data PLN, penjualan listrik selama 8 bulan tahun ini hanya tumbuh sebesar 2,8%.

Sementara tahun lalu, penjualan listrik PLN tumbuh 6,49%. PLN mencatat, penurunan konsumsi listrik itu terjadi pada tiga golongan konsumen, yakni rumah tangga, bisnis, dan industri. ”Penjualan listrik sampai Agustus pertumbuhannya 2,8%. Memang ini menurun dibanding 2016 dan tahun-tahun sebelumnya,” ujar Direktur Bisnis Maluku dan Papua PLN Ahmad Rofiq di Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Jakarta. Menurut Rofiq, penurunan konsumsi listrik oleh konsumen rumah tangga terjadi karena semakin banyak rumah tangga menggunakan lampu hemat energi seperti LED.

Selain itu, kata dia, beberapa golongan masyarakat kini juga sudah mulai memasang sistem photovoltaic atau menggunakan panel surya untuk mengurangi pemakaian listriknya. ”Kami telah melakukan survei bersama PT Survei Indonesia untuk melihat kenapa terjadi penurunan. Kalau rumah tangga disebabkan mereka sensitif terhadap harga,” kata dia. Untuk pelanggan di atas 1.300 VA, sambung dia, kini bahkan sudah ada kecenderungan untuk memasang panel surya guna memangkas konsumsi listriknya. ”Jadi, itu setelah kami data berpotensi mengurangi beban minimal per bulan sebesar 59.371 kWh untuk beban rumah tangga,” tuturnya.

Lebih lanjut Rofiq mengatakan, pertumbuhan penjualan listrik ke pelanggan industri pun tak sesuai harapan. Hingga semester I/2017, kata dia, penjualan listrik ke pelanggan industri hanya tumbuh 2,2%. Pertambahan pelanggan industri pun baru 63% dari target PLN. Rofiq mengungkapkan, banyak pelanggan industri yang bermigrasi menjadi pelanggan dengan daya lebih rendah karena turunnya aktivitas produksi.

 ”Ada migrasi dari pelanggan daya, jadi ada penurunan dari sisi produksi. Mungkin ada kendala pemasaran,” katanya. Selain itu, kata dia, ada juga pelanggan yang memilih untuk membangun pembangkit listrik sendiri sehingga penjualan PLN menurun sampai 188 juta kWh. Rofiq menambahkan, maraknya jual beli online ikut berdampak pada penjualan listrik PLN. Jual beli online , kata dia, membuat bisnis ritel tertekan sehingga banyak pusat perbelanjaan mengurangi konsumsi listriknya.

Dia mencontohkan di Jakarta, di mana penurunan konsumsi listrik pusat perbelanjaan rata-rata mencapai 13%, seperti yang terjadi di Senayan City, Gandaria City, dan Grand Indonesia. ”Banyak toko tutup karena banyak masyarakat mulai beralih belanja melalui e-commerce ,” ujarnya. Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM Andy Noorsaman Someng mengatakan, kendati penjualan listrik PLN turun, sampai dengan Agustus 2017 terjadi pertumbuhan pelanggan sebesar 5,73% menjadi 66,6 juta pelanggan.

Berdasarkan data PLN, mengacu pada perkiraan pertumbuhan ekonomi 2017- 2026, kebutuhan energi listrik nasional yang akan dipasok PLN yaitu sekitar 8,3%. Dengan begitu, kebutuhan listrik PLN akan meningkat dari 234-480 TWh sampai 2026. Konsumsi listrik tertinggi tercatat masih di sistem Jawa-Bali. Sementara pertumbuhan terbesar terjadi di sistem Maluku.

Post Terkait