Likuiditas Longgar, Bank Harusnya Turunkan Suku Bunga Kredit

Kondisi likuiditas perbankan nasional saat ini dinilai sudah lebih longgar. Artinya sudah tidak ada alasan lagi bagi perbankan untuk tidak menurunkan suku bunga kredit.

Direktur Utama PT Bank Mayapada Tbk Hariyono Tjahjarijadi sebelumnya mengatakan, penurunan suku bunga kredit sangat bergantung pada likuiditas.

“Namun semuanya tergantung likuiditas di pasar uang. Kalau ini bisa berjalan lancar, maka penurunan bunga kredit bisa saja dilakukan,” ujarnya kepada detikFinance, Selasa (15/8/2017).

Analis PT Danareksa Sekuritas Lucky Bayu Purnomo memastikan longgarnya likuiditas, sehingga bisa memberi ruang untuk penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia (BI) 7-days Repo Rate dan berefek kepada bunga deposito dan kredit perbankan.

Dia mengatakan, sekarang kondisi likuiditas sudah lebih longgar. “Ini karena dana yang ada di sistem bank banyak, tapi tidak tersalurkan dengan optimal. Jadi ada potensi untuk penurunan bunga kredit agar mendorong pertumbuhan,” jelasnya kepada detikFinance.

Dari data BI penyaluran kredit perbankan per Juni 2016 tercatat Rp 4.518 triliun tumbuh 7,6% lebih rendah dibandingkan periode Mei 2017 8,6%.

Kemudian untuk loan to deposit ratio (LDR) atau jumlah kredit yang disalurkan kepada pihak ketiga bukan bank per Mei 2017 tercatat 88,57%. Persentase ini diambil dari penyaluran kredit sudah mencapai Rp 4.244 triliun dari dana pihak ketiga (DPK) yang dikumpulkan Rp 4.792 triliun.

Jumlah ini lebih rendah dibandingkan periode Mei 2016 90,32%. Pada 2015, LDR perbankan tercatat 92,11%.

BI menetapkan rasio LDR atau loan to funding ratio (LFR) untuk bank yaitu batas bawah 78% dan batas atas 92%. Kemudian bank bisa memiliki LFR 94% dengan syarat bank bisa menyalurkan lebih banyak kredit UMKM dan memiliki NPL di bawah 5%.

 

Post Terkait