Ketegangan Korea Utara Mereda, Bursa Asia Menguat Terbatas

Bursa saham Asia menguat tipis pada perdagangan saham Kamis pekan ini. Penguatan bursa saham Asia di tengah ada kemajuan isu Korea Utara.

Selain itu, bursa saham Amerika Serikat (AS) atau wall street yang masih tertekan imbas sektor saham teknologi juga membuat bursa saham Asia naik terbatas. Indeks saham MSCI Asia Pasifik di luar Jepang naik 0,05 persen.

Indeks saham Jepang Nikkei menguat satu persen. Diikuti indeks saham Korea Selatan Kospi menanjak satu persen. Sedangkan indeks saham Australia turun 0,1 persen.

Pergerakan bursa saham Asia juga dipengaruhi wall street yang melemah. Sektor saham teknologi terutama saham Amazon menekan wall street.

“Kekhawatiran perang dagang global telah berkurang. Meskipun kekhawatiran terhadap sektor teknologi di bursa saham Amerika Serikat masih ada,” ujar Masahiro Ichikawa, Analis Senior Sumitomo Mitsui Asset Management, seperti dikutip dari laman Reuters, Kamis (29/3/2018).

Ia menambahkan, bursa saham Asia juga mendapatkan dukungan dari meredanya ketegangan Korea Utara. Jepang telah mengeluarkan pernyataan kepada pemerintahan Korea Utara terkait pertemuan bilateral. Kemudian membahas kemungkinan pertemuan para pemimpin Jepang dan negara lain.

Pemimpin Korea Utara Kim Jong Un berkomitmen untuk menghentikan perkembangan senjata nuklir dan bertemu dengan pejabat pemerintahan AS.

Portofolio aset investasi aman pun dicari investor. Salah satunya yen yang dicari saat gejolak pasar dan ketegangan politik. Selain itu, dolar AS kembali menguat. Dolar AS cenderung stabil terhadap yen di kisaran 106,860 usai reli 1,4 persen.

Dengan  kekhawatiran perang dagang mereda, dolar AS menguat terhadap mata uang lainnya. Indeks dolar AS berada di posisi 90,06. Sedangkan euro berada di kisaran USD 1,2305.

Imbal hasil surat utang AS bertenor 10 tahun berada di posisi 2,786. Imbal hasil surat utang AS sempat sentuh level terendah dalam dua bulan mendekati 2,743 persen.

Di pasar komoditas, harga minyak mentah AS naik 0,5 persen menjadi USD 64,70 per barel usai turun satu persen. Data persediaan minyak AS menguat secara tak terduga sempat menekan harga minyak.

Post Terkait