Kenapa Daya Saing Infrastruktur RI Kalah dari Malaysia?

Usaha pemerintah menggenjot pembangunan infrastruktur mulai menunjukkan dampak dengan meningkatnya peringkat daya saing infrastruktur Indonesia ke urutan 60, naik dari posisi ke-90 pada tahun 2011. Namun secara global masih tertinggal di bawah Malaysia, Singapura, Thailand dan Brunei Darussalam.

Menteri PUPR Basuki Hadimuljono mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi tantangan pemerintah agar pembangunan infrastruktur bisa digenjot lebih cepat lagi. Di antaranya regulasi yang masih cenderung dipersulit.

“Regulasi is a must untuk disederhanakan. Saat ini semua orang ingin atur, khususnya perizinan. Orang bangga untuk melarang. Padahal kita ingin perbaiki ease of doing businesskita. Menurut pak Menteri Dalam Negeri, ada 42 ribu aturan. Padahal dengan banyaknya aturan ini menyebabkan ketidakpastian hukum,” katanya pada acara forum nasional daya saing infrastruktur di Hotel Shangri-La, Jakarta, Selasa (22/8/2017).

Selain itu, kualitas sumber daya manusia (SDM) yang dimiliki oleh Indonesia saat ini masih harus terus ditingkatkan. Contoh sederhananya, kata dia diketahui dari kesiapan konsultan infrastruktur saat ditemuinya di lapangan.

“Konsultan pengawas saja, kalau saya tanya mana petanya, bukunya, enggak ada. Hanya backpack saja, isinya cuma lunch box dan botol minum. Padahal itu tugas kita. Ini yang harus kita tingkatkan kualitas SDM kita,” tutur dia.

Hal lainnya yang harus terus ditingkatkan adalah pemanfaatan inovasi teknologi, kreativitas dalam pembiayaan, dan integritas dari kepemimpinan.

Pemanfaatan inovasi teknologi saat ini sudah diterapkan pada pembangunan jembatan dan flyover. Sedangkan dari pembiayaan, pemerintah telah menyusun beberapa model pembiayaan yang dapat mengurangi penggunaan APBN dalam pembangunan, contohnya pada proyek jalan tol dan air minum.

Hal lainnya yang tak kalah penting adalah integritas kepemimpinan dalam menyelesaikan berbagai pembangunan yang dicanangkan. Hal ini yang menjadi alasan pemerintah kerap blusukan memonitor bahwa proyek yang telah dijalankan berkembang sesuai target dan memecahkan langsung masalah di lapangan.

“Karena kalau biasa-biasa saja, pasti ketinggalan. Makanya kalau Presiden datang ke satu titik proyek yang sama, saya harus dua kali lipatnya, Dirjennya harus empat kali lipatnya. Bukan karena tidak percaya, tapi leadership juga adalah pegangan kita. Kalau dulu orang pakai lagu pop, sekarang kita pakai lagu rock n’ roll. Semuanya supaya kerjanya lebih keras, sehingga hasilnya lebih cepat dan lebih baik,” tukas Basuki.

Post Terkait