Kekhawatiran Penutupan Pemerintahan AS Dorong Penguatan Rupiah

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak menguat pada perdagangan hari ini.

Mengutip Bloomberg, Jumat (19/1/2018), rupiah dibuka di angka 13.340 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan penutupan perdagangan sebelumnya yang ada di angka 13.347 per dolar AS.

Sejak pagi hingga siang hari ini, rupiah bergerak di kisaran 13.283 per dolar AS hingga 13.370 per dolar AS. Jika dihitung dari awal tahun, rupiah mampu menguat 1,71 persen.

Sementara berdasarkan Kurs Referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (Jisdor) Bank Indonesia (BI), rupiah dipatok di angka 13.331 per dolar AS, menguat jika dibandingkan dengan patokan sehari sebelumnya yang ada di angka 13.365 per dolar AS.

Dolar AS memang tertekan di kawasan Asia pada perdagangan hari ini. Pelemahan ini terjadi karena pelaku pasar cukup khawatir dengan penghentian sementara pemerintahan AS.

Kongres harus meloloskan nota belanja pemerintah pada Jumat waktu setempat untuk menghindari penutupan pemerintah.

“Saat ini risiko paling tinggi adalah penutupan pemerintah, meski bukan skenario utama kami,” kata Shinichiro Kadota, analis senior di Barclays.

Research Analyst FXTM Lukman Otunuga menjelaskan, ketidakpastian politik di Amerika Serikat akan terus menekan dolar AS sehingga mata uang pasar berkembang dapat terangkat, termasuk rupiah.

Trader teknikal akan terus mengamati apakah dolar AS turun ke bawah 13.320 yang dapat membuka jalan menuju 13.300,” jelas dia.

Hanya Melemah 0,6 Persen Sepanjang 2017

BI menyebutkan nilai tukar rupiah secara rata-rata harian relatif stabil dengan mencatat depresiasi tipis sebesar 0,60 persen ke posisi Rp 13.385 per dolar AS pada 2017.

Pergerakan rupiah yang stabil tersebut didukung aliran modal asing ke Indonesia yang cukup signifikan sejalan dengan perkembangan eksternal dan domestik yang positif.

Di sisi eksternal, kondisi pasar keuangan global yang relatif kondusif telah mendorong aliran modal asing ke negara berkembang, termasuk Indonesia.

“Sementara di sisi domestik, sentimen positif kenaikan credit rating Indonesia, inflasi yang terjaga, dan tingkat imbal hasil penanaman aset keuangan domestik yang kompetitif merupakan faktor yang memengaruhi aliran modal asing ke Indonesia,” kata Kepala Departemen Kebijakan Ekonomi dan Moneter, Dody Budi Waluyo, di Bank Indonesia, Kamis (18/1/2018).

Namun demikian, Rupiah sempat mengalami tekanan seiring dengan normalisasi kebijakan moneter, meningkatnya ekspektasi kenaikan suku bunga, dan rencana reformasi pajak di AS.

Pada Desember 2017, rupiah secara rata-rata harian bergerak relatif stabil atau hanya melemah 0,24 persen (mtm) terutama dipengaruhi oleh faktor musiman di pasar keuangan domestik, yaitu meningkatnya permintaan valas oleh residen untuk keperluan pembayaran ULN dan impor serta adanya realisasi keuntungan oleh investor nonresiden.

“Ke depan, Bank Indonesia akan terus mewaspadai risiko ketidakpastian keuangan global dan tetap melakukan langkah-langkah stabilisasi nilai tukar sesuai fundamental dengan tetap menjaga bekerjanya mekanisme pasar,” tutup Dody.

Post Terkait