KEIN: Target Pajak 2018 Tinggi, Jangan Sampai Ganggu Dunia Usaha

Pemerintah menargetkan kenaikan penerimaan perpajakan tahun depan sebesar Rp 1.609,4 triliun, lebih tinggi dari tahun ini Rp Rp 1.472,7 triliun. Adapun target penerimaan pajak 2018, di luar bea dan cukai, sebesar Rp 1.415 triliun.

Target itu naik cukup signifikan dibandingkan tahun ini yang sebesar Rp 1.282 triliun. Menurut Wakil Ketua Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN), Arif Budimanta, target pajak tahun depan jangan sampai membuat khawatir dunia usaha.

“Terkait perpajakan, kalau penerimaan tahun ini enggak sampai 100%, hanya 85-90%, maka pertumbuhan pajak 2018 kisarannya 25-28%. Itu kalau kita ambil dari realisasi, bukan asumsi,” kata Arif, dalam diskusi di Gado-gado Boplo, Menteng, Jakarta, Sabtu (19/8/2017)..

“Dengan situasi seperti itu, pengusaha akan melihat itu tinggi sekali peningkatannya. Jadi tantangan terbesar di 2018 adalah bagaimana caranya untuk mencapai target penerimaan dari sisi perpajakan. Sampai semester 1 ini saja baru 40%,” lanjut Arif.

Arif mengatakan, dengan target penerimaan yang besar, pasti secara tidak langsung memberikan semacam push factor psychology bagi sektor riil karena mereka akan melihat dari sisi yang realistis. Karena kalau basis penerimaan pajak tidak nambah, maka kemudian yang akan dilakukan adalah intensifikasi atau kenaikan penarikan tarif pajak.

“Otomatis itu akan memberikan efek psikologis dari dunia usaha sendiri, sehingga mereka menunda untuk ekspansi, menjadi cenderung konservatif. Kita harapkan dengan target realisasi seperti itu, justru kita harapkan memberikan insentif untuk melakukan ekspansi,” terang Arif.

Untuk itu, penting bagi pemerintah agar bisa menjaga ekonomi bisa tumbuh tanpa semata-mata mengandalkan kebijakan fiskal. Pasalnya, dengan target penerimaan perpajakan yang begitu tinggi bisa membuat dunia usaha khawatir.

“Kalau penerimaan pajaknya ada dari tax amnesty, automatic exchange of information, tidak menghasilkan hasil signifikan, justru bisa membangun kontraksi di dunia usaha. Dengan begini, kemungkinan bisa tertahan lagi aktivitas di sektor riilnya, karena petugas pajaknya mengejar target,” tutur dia.

“Sehingga dari sisi perpajakan, adalah suatu tantangan yang luar biasa. Kalau lihat realisasi sebelumnya, maka lompatan tumbuhnya cukup lumayan di tahun 2018 mendatang,” tutur Arif.

Sebagai informasi, total penerimaan perpajakan di RAPBN 2018 adalah Rp 1.609, 3 triliun. Rinciannya, penerimaan pajak sebesar Rp 1.415 triliun, terdiri dari Pajak penghasilan (PPh) Rp 852,9 triliun, meliputi PPh non migas Rp 816,9 triliun dan PPh migas Rp 35,9 triliun.

Kemudian, pajak pertambahan nilai (PPN) ditargetkan Rp 535,3 triliun, pajak bumi dan bangunan (PBB) Rp 17,3 triliun dan pajak lainnya Rp 9,6 triliun. Sedangkan bea masuk ditargetkan Rp 35,7 triliun dan bea keluar sebesar Rp 3 triliun, serta cukai yang sebesar Rp 155,4 triliun.

Post Terkait