Kecewanya Pelaku Pasar Saham Melihat Ekonomi RI

Pasar saham merespons negatif data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2017 yang tumbuh 5,01%. Angka tersebut tidak sesuai harapan dari pelaku pasar modal.

Respons negatif dari pelaku pasar modal terlihat dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang merosot secara tiba-tiba. Pada sesi I perdagangan kemarin, IHSG terus menguat bahkan menyentuh level tertinggi 5.812. Namun di pertengahan sesi II langsung merosot jauh ke zona merah dan berakhir melemah 28,19 poin atau 0,49% ke 5.749.

Menurut Kepala Riset MNC Sekuritas, Edwin Sebayang, pergerakan IHSG tersebut menjadi gambaran kekecewaan pelaku pasar terhadap kondisi ekonomi Indonesia di kuartal II-2017. Seharusnya dengan adanya Lebaran, pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa lebih baik.

“Kami di pasar kecewa dengan pertumbuhan ekonomi yang flat dengan kuartal satu kemarin. Secara historis itu di kuartal II, PDB (Pendapatan Domestik Bruto) harusnya tumbuh apalagi ada hari raya (Lebaran),” tuturnya saat dihubungi detikFinance, Selasa (8/8/2017).

Pelaku pasar sebenarnya berharap pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2017 berada di level 5,08%-5,1%. Dengan begitu, masih ada kesempatan untuk mengejar target pertumbuhan ekonomi yang dicanangkan pemerintah tahun ini sebesar 5,2%.

Kekecewaan pelaku pasar juga tercermin dari keluarnya dana asing di pasar saham. Kemarin, investor asing melakukan aksi jual dengan catatan net sell Rp 347 miliar.

“Itu jadi semakin confirm mereka (investor asing) keluar karena perlambatan pertumbuhan ekonomi. Enggak heran asing keluar hampir sekitar Rp 23 triliun selama 2 setengah bulan,” tambah Edwin.

Pelaku pasar juga kecewa dengan catatan laju konsumsi rumah tangga yang masih melambat. Pada kuartal II-2017, pertumbuhan konsumsi rumah tangga sebesar 4,95%, lebih rendah dibanding kuartal II-2016 sebesar 5,07%. Penurunan konsumsi rumah tangga pun seakan terasa terhadap kinerja keuangan para emiten ritel di semester I-2017 yang sebagian mengalami penurunan.

Sementara Analis First Asia Capital, David Sutyanto, menilai lesunya konsumsi masyarakat sebenarnya juga disebabkan oleh kebijakan dari pemerintah sendiri. Seperti semakin ketatnya kebijakan perpajakan.

“Apalagi barang mewah dinaikkan pajaknya, akhirnya kita kehilangan PDB. Memang ada berbagai situasi yang membuat masyarakat kelas menengah turun,” ujarnya.

Selain itu, menurut David, dengan didorongnya penggunaan jaminan kesehatan lewat BPJS Kesehatan kepada seluruh masyarakat, juga mempengaruhi konsumsi rumah tangga terhadap obat-obatan. Tidak hanya itu, dengan dicabutnya subsidi BBM juga turut mempengaruhi konsumsi rumah tangga.

“Memang di satu sisi baik bagi masyarakat karena tidak jadi konsumtif, tapi bagi pertumbuhan ekonomi kita menjadi melambat,” imbuhnya.

Sedangkan Kepala Riset Reliance Securities, Robertus Yanuar Hardy, memandang bukan hanya konsumsi rumah tangga yang memprihatinkan, tapi juga konsumsi pemerintah yang justru minus 1,93%. Padahal di kuartal I-2017 tumbuh 2,68%.

“Komponen PDB paling besar itu dari government spending (konsumsi pemerintah) dan consumer spending (konsumsi masyarakat), dua-duanya masih kurang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi. Yang dapat mendorong di atas 5% itu dari posistifnya neraca perdagangan yang ditopang peningkatan harga komoditas,” terangnya.

Kendati begitu, Robertus masih yakin konsumsi pemerintah bisa membaik di semester kedua tahun ini. Hal itu seiring dengan siklus proyek infrastruktur yang tengah menjadi fokus pemerintah.

“Tren peningkatan government spending biasanya terjadi menjelang akhir tahun,” tukasnya.

Post Terkait