Jangan Nyinyir dengan Gaji Orang Lain, Syukuri Gaji Kita

“Berapa pun penghasilan kita, cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup, namun akan selalu kurang untuk memenuhi gaya hidup, Allah memberikan kekayaan dan kecukupan.”

Dalam artikel-artikel saya sebelumnya, terkesan bombastis katanya, meski itu riil kondisi klien. Kaya dengan aset nyaris triliun, tapi tetap sederhana cukup dengan mobil Rp 200 jutaan, ataupun terlihat kaya namun sebenarnya memaksakan alias terlihat mapan, itu riil ya.

“Coba ini Planner suruh menghitung yang berpendapatan Rp 3 juta, atau Rp 5 juta, pasti pusing.”

Pada dasarnya bukan pendapatan yang bikin pusing, tapi keinginan Kita. Keinginan yang tidak mau dikalahkan oleh kebutuhan. Meski beberapa kebutuhan sudah mencakup keinginan disesuaikan dengan cashflow kita.

Sebenarnya yang datang ke Financial Planner apakah hanya yang berpendapatan puluhan juta per bulan saja? Tegas Saya jawab tidak.

Kasus 1
Seorang ibu berpendapatan Rp 1,4 juta per bulan, suaminya Rp 7 juta per bulan, dengan 2 orang anak, cukup untuk hidup : zakat, infaq, sedekah, biaya hidup lainnya dan berinvestasi untuk : dana darurat, asuransi jiwa, dana pendidikan 2 anak dari SD hingga Perguruan Tinggi, dana haji, dana pensiun, renovasi rumah, beli motor baru, pernikahan anak, dan liburan tiap tahun.

Kasus 2
“Hei, ini lho di Solo, 3 tahunan yang lalu seorang ibu berkonsultasi bagaimana mengatur Rp 100 ribu untuk seminggu, terdiri dari pemenuhan makan tidak termasuk beras, kas pengajian dan cicilan, kita bantu manajemen cukup kok.”

Kasus 3
Pasangan suami istri dengan pendapatan rata-rata, Rp 2,4 juta per bulan, 2 anak. Pasangan ini menginginkan beberapa tujuan keuangan, dan yang dapat kami bantu hitung adalah pemenuhan : investasi dana darurat, asuransi jiwa, uang masuk sekolah 2 orang anak dari pra sekolah sampai Perguruan Tinggi, dana haji, dana pensiun dan dana pembelian mobil, selain tentunya sudah dialokasikan untuk kebutuhan hidup sehari-hari.

Kasus 4
Pasangan suami istri berpendapatan Rp 8 juta per bulan, memiliki satu orang anak, batal membuat perencanaan keuangan, karena sang istri syok mengetahui suami punya cicilan utang untuk biaya pernikahan mereka beberapa tahun yang lalu, serta cicilan pinjaman dengan agunan rumah orang tua. Yang bikin istri kaget adalah, mengetahui semua itu saat berkonsultasi pada sesi wawancara dengan financial planner. Padahal pernikahan itu sudah berjalan bertahun-tahun lamanya. Ironis. Dan masih banyak kasus-kasus lain dengan pendapatan tidak sampai puluhan juta.

Dari beberapa kasus di atas, bisa kita jadikan contoh bahwa berapa pun income kita, rezeki kita selalu cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup. Tentunya standar kebutuhan hidup masing-masing orang berbeda, semuanya disesuaikan dengan pendapatan yang dimiliki. Yang menyebabkan tidak cukup adalah ketika penghasilan kita 5, namun menginginkan hidup seperti orang bergaji 10, 15 atau 20, tentunya tidak mudah, perlu banyak hal yang dikorbankan.

Jadi sekarang kembali ke kita sendiri, apakah hanya mau menjadi kaum nyinyir, “iya, dia gajinya sekian, lha saya cuman sekian.” ” iya, yang dijadikan contoh yang pendapatannya sekian, coba yang pendapatannya sekian,” atau menjadi kaum yang senantiasa berusaha dan bersyukur, tidak hanya dalam bentuk Alhamdulillah, terima kasih Tuhan, namun juga dengan bersosial melalui derma, perpuluhan, zakat infaq sedekah, mengelola pendapatan dan rezeki yang kita miliki untuk kebutuhan hidup saat ini dan masa depan, saat di dunia dan bekal di akhirat.

Mengelola pendapatan dapat kita lakukan sendiri, sama seperti ketika kita sakit, bisa membeli obat sendiri di warung atau apotek, namun jika ingin mendapat obat dengan takaran yang tepat, sesuai dengan kondisi badan kita baik berat badan maupun jenis sakit, faktor alergi dan lain-lain tentunya kita perlu pergi ke dokter untuk mendapat resep.

Sama dengan mengelola keuangan, jika ingin tepat sesuai dengan kondisi dan situasi ekonomi kita baiknya pergi ke perencana keuangan atau belajar sendiri di Jakarta info bisa dibuka di sini sementara di kota Surabaya, info bisa dibuka di sini dan di sini.

Selain itu ada juga di Bali, info bisa dibuka di sini dan di sini. Hal ini perlu disampaikan, bahwa ada lho profesional utk membantu pengelolaan keuangan, ada lho pelatihan untuk mengelola keuangan, karena jika tidak, kemudian salah investasi, salah asuransi, salah jumlah, salah tempat, salah rencana dll, deritanya anda yang nanggung, namun dosanya bisa-bisa kami ikut menanggung. Namun jika sudah kami sampaikan, kami sudah bebas kewajiban, terlepas mau ikut atau tidak, itu keputusan anda. Nah, selamat mengelola keuangan, ingat empowering your financial!

Post Terkait