Jabar Tetapkan Upah Minimum Sektoral Akhir Maret 2018

Pemerintah Provinsi Jawa Barat baru menerima usulan Upah Minimum Sektoral Kabupaten/Kota (UMSK) dari lima kabupaten/kota. Kepala Dinas Tenaga Kerja Provinsi Jabar Ferry Sofyan mengungkapkan, setiap usulan yang masuk dari kabupaten/kota akan dibahas oleh Dewan Pengupahan Provinsi dan tidak menunggu semua usulan dari kabupaten/kota terkumpul.

“Kelima daerah tersebut adalah Kabupaten Indramayu, Kota Sukabumi, Kabupaten Cianjur, Kabupaten Sukabumi, dan Kota Depok. Kabupaten Indramayu dan Kota Sukabumi sudah disetujui untuk direkomendasikan kepada Gubernur Jabar sedangkan tiga lainnya masih harus melengkapi persyaratan-persyaratan administrasi sesuai Permenakertrans No 7 Tahun 2013,” ujar Ferry, dalam keterangan tertulis dari Pemprov Jabar, Minggu (28/1/2018).

UMSK yang sudah ditetapkan pada 2017, juga hanya diajukan oleh beberapa kabupaten/kota. Sebab, hal ini tergantung pada kondisi sektor industri unggulan di kabupaten/kota tersebut.

Untuk UMSK 2018, 22 kabupaten kota lainnya masih melakukan kajian besaran UMSK. Kajian ini dilakukan bersama pekerja, asosiasi pengusaha, dan pemerintah. Nantinya, usulan besaran UMSK harus dikirimkan ke pemerintah provinsi pada Maret 2018.

“Sebetulnya pada April 2017 kami sudah adakan lokakarya tentang UMSK ini dan Dewan Pengupahan Kabupaten Kota hadir. Semua sepakat untuk membahas hal itu dan paling lambat usulan diterima dan ditetapkan gubernur pada akhir Maret 2018. Kalau dalam Dewan Pengupahan Kabupaten (Depekab) atau Dewan Pengupahan Kota sudah ada perwakilan buruh atau pekerja, asumsinya, serikat buruh/pekerja sudah mengetahui hal ini sehingga tuntutan supaya UMSK diberlakukan pada akhir Januari 2018 tidak perlu muncul,” ujar Ferry.

Masih menurut Ferry, Disnakertrans Jabar sudah memfasilitasi pembahasan UMSK melalui lokakarya dewan pengupahan, rapat khusus pengupahan di lima wilayah dengan Depekab/kota di wilayah Bogor, Purwakarta, Cirebon, Priangan Barat, dan Priangan Timur.

Ferry menjelaskan, untuk ditetapkan gubernur, Dewan Pengupahan Kabupaten Kota (Depekab/kota) yang terdiri dari unsur pemerintah, organisasi pengusaha, serta serikat pekerja harus membuat usulan besaran UMSK.

Usulan tersebut dibuat setelah mereka melakukan penelitian serta menghimpun data dan informasi mengenai homogenitas perusahaan, jumlah perusahaan, serta jumlah tenaga kerja. Selain itu, juga diperhitungkan devisa yang dihasilkan, nilai tambah yang dihasilkan, kemampuan perusahaan, asosiasi perusahaan, dan serikat pekerja/serikat buruh terkait

Sebelumnya, Dewan Pimpinan Wilayah Federasi Serikat Pekerja Metal Indonesia Jawa Barat melakukan unjuk rasa di depan Gedung Sate. Mereka menuntut supaya Gubernur Jabar segera memberlakukan UMSK 2018 di seluruh kabupaten kota se-Jawa Barat dan menetapkan UMSK 2018 Kabupaten/Kota se-Jawa Barat pada akhir Januari 2018.

Padahal selain lokakarya, Disnakertrans Jabar juga membahas UMSK melalui surat gubernur agar mengajukan UMSK pada Maret 2018. Dalam surat itu diingatkan agar Bupati/Walikota mendorong para pengusaha membentuk asosiasi pengusaha sektoral.

“Kami mengusulkan membentuk asosiasi pengusaha sektoral karena yang terpenting dalam membuat usulan UMSK tersebut adalah kesepakatan bipartit antara pengusaha dan pekerjanya tentang besaran nilai upah. Kesepakatan yang menggaji dan yang digajinya. Gubernur tidak bisa memaksa besaran UMSK. Apalagi UMSK ini nilainya lebih besar dari UMK,” tutup Ferry.

Post Terkait