IPB: Petani Tak Boleh Dibiarkan Berjuang Sendiri Melawan Wereng

Wereng cokelat akhir-akhir ini kembali merajalela menyerang tanaman padi petani. Di Kecamatan Cipunagara, Subang sudah empat musim terakhir hama ini menyerang.

Himpunan Alumni IPB Kabupaten Subang memperkirakan, 90% lahan sawah dari total 6.250 hektar yang ada di Cipunagara mengalami gagal panen.

Serangan wereng di Cipunagara diperberat dengan makin menyebarnya penyakit kerdil. Penyakit ini disebabkan oleh virus yang dibawa oleh wereng cokelat. Penyebarannya kini tidak hanya di Cipunagara tapi sudah merata ke seluruh kecamatan di Subang. Baik wereng maupun penyakit kerdil, menyebabkan penurunan produksi hingga setengahnya bahkan banyak yang tidak panen sama sekali.

Menurut Agus Masykur Rosyadi, ketua Himpunan Alumni IPB Subang, serangan wereng sangat memprihatinkan karena dari musim ke musim serangan hama wereng dan penyakit kerdil terus terjadi dan eskalasinya meningkat. Hal ini mengganggu produksi padi di Cipunagara khususnya dan Subang pada umumnya.

“Menyaksikan situasi ini kami amat prihatin karena produksi padi petani terganggu. Akibatnya petani dari musim ke musim terus mengalami kerugian. Padahal untuk sekali tanam saja setidaknya diperlukan biaya 6 juta per hektar. Modal ini biasanya didapat dengan pinjam, ketika terjadi gagal panen dapat dipastikan petani menanggung utang yang makin banyak,” kata Agus dalam keterangan tertulis, Jumat (14/7/2017).

Subang sebagai salah satu tulang punggung produksi beras nasional perlu segera keluar dari ledakan hama penyakit. Jika tidak maka kehidupan dan kesejahteraan masyarakatnya, yang sebagian besar bergantung pada usaha budidaya padi bisa terganggu. Terlebih jika memperhatikan data ledakan hama wereng akhir-akhir ini makin sering terjadi.

Dalam catatan Klinik Tanaman IPB, Departemen Proteksi Tanaman IPB, ledakan hama wereng cokelat terjadi sekurangnya lima kali, yaitu diantaranya tahun 1975, 1986, 1998, 2010 dan 2017 ini. Ledakan hama wereng pada tahun 2010 hingga 2011 bahkan berujung pada terjadinya impor beras yang terbesar, yaitu mencapai 2,7 juta ton.

Ledakan hama dan penyakit yang terjadi selalu saja menempatkan petani sebagai korban dan pihak yang paling banyak menderita kerugian. Terlebih petani padi terutama di pantura seperti di Subang, menggantungkan hidupanya dari hasil panen padi.

Pada situasi demikian, petani seringkali ditinggalkan, tak ada yang menemani dan membantu untuk keluar dari persoalan.

Suryo Wiyono, Kepala Departemen Proteksi Tanaman IPB mengemukakan sangat penting bagi semua pihak untuk peduli dan menjadi sedulur petani pada situasi sulit seperti saat ini. Ketika terjadi ledakan hama petani seolah tidak punya kawan, tidak punya dulur yang bisa mendorongnya keluar dari masalah.

“kita lebih sering membincangkan ancaman hilang atau menurunnya produksi ketika terjadi ledakan hama penyakit. Jarang kita membincangkan bagaimana nasib petani dan keluarganya. Apalagi mendorong lahirnya aksi nyata yang memungkinan petani terbebas dari persoalan. Lebih banyak abai, akhirnya petani makin terjerat dalam lingkar jerat hutang yang ditawarkan pihak lain yang merugikan petani,” papar Suryo.

IPB sebagai perguruan tinggi yang memiliki concern terhadap nasib petani dan pertanian merasa penting untuk hadir ditengah-tengah petani. Dengan kapasitasnya, IPB hadir dan mendorong kepercayaan diri dan keberdayaan petani dengan pengembangan teknologi yang murah, mudah dan adaptif bagi petani sebagai alternatif penyelesaian masalah.

Klinik tanaman IPB menunjukkan data bahwa hama wereng dalam catatan sejarah memang menjadi hama dominan dan merugikan petani. Dalam catatannya, serangan hama wereng cokelat telah lima kali terjadi diantaranya tahun 1975, 1986, 1998, 2010 dan 2017 ini.

Menyikapi hal tersebut sekaligus sebagai upaya melaksanakan tridarama perguruan tinggi, Himpunan Alumni (HA) IPB Subang menggandeng Klinik Tanaman, Departemen Proteksi Tanaman dan LPPM IPB menggelar kegiatan lapang bertajuk reaksi tanggap darurat wereng untuk menyelamatkan petani.

Dengan dukungan Dinas Pertanian Kabupaten Subang, kegiatan ini dilakukan dalam bentuk pelayanan konsultasi Klinik Tanaman bagi petani, dialog petani dan penyerahan teknologi hijau pengendalian hama penyakit kepada petani untuk dikembangkan.

Kegiatan ini sekurangnya dihadiri 400 orang petani perwakilan dari lima kecamatan di Subang, jajaran Dinas Pertanian, alumni IPB Subang dan publik.

“Kegiatan ini juga rencananya akan dihadiri oleh Rektor IPB dan menghadirkan guru besar serta ahli di bidang hama penyakit padi. Dengan demikian diharapkan acara ini benar-benar memberikan manfaat dan dampak bagi petani. Setidaknya dengan hadirnya IPB ke petani, mereka menjadi percaya diri dan mampu bangkit terlebih adanya dukungan teknologi hijau serta pengetahuan yang dibagikan,” pungkas Suryo.

Post Terkait