Investor Pantau Data Ekonomi, Dolar AS Kembali Tertekan

Mata uang dolar Amerika Serikat (AS) diperdagangkan terus melemah pada Jumat waktu setempat. Pelemahan terjadi karena para investor mencerna sejumlah laporan ekonomi.

Departemen Perdagangan mencatat penjualan ritel dan jasa makanan AS untuk Agustus 2017 mencapai USD474,8 miliar atau turun 0,2 % dari bulan sebelumnya. Data untuk Juli direvisi menunjukkan kenaikan penjualan 0,3 %, bukan lonjakan 0,6 % yang dilaporkan sebelumnya, menurut departemen tersebut.

 Indeks dolar yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama turun 0,23 % menjadi 91,913 pada akhir perdagangan. Sementara itu, Wall Street terus mengawasi data inflasi karena mengindikasikan langkah Federal Reserve AS berikutnya.

Departemen Tenaga Kerja AS mencatat Indeks Harga Konsumen untuk naik 0,4 % pada Agustus. Selama 12 bulan terakhir, harga konsumen naik 1,9 %. Perubahan 12 bulan dalam indeks untuk semua item dikurangi makanan dan energi tetap di 1,7 % untuk bulan keempat berturut-turut, menurut laporan tersebut.

Ekspektasi pasar untuk kenaikan suku bunga Fed pada Desember mencapai 50,9 %, menurut alat FedWatch CME Group. The Fed dijadwalkan akan mengumumkan keputusan terakhirnya mengenai kebijakan moneter minggu depan. Sementara bank sentral diperkirakan tidak akan mengumumkan kenaikan suku bunganya, diperkirakan akan mulai melepaskan portofolio besarnya yang mencapai 4,5 triliun dolar AS.

Pada akhir perdagangan New York, euro meningkat menjadi USD1,1939 dari USD1,1918 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris meningkat menjadi USD1,3571 dari USD1,3400 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia meningkat menjadi USD0,8000 dari USD0,7990.

Dolar AS dibeli 110,89 yen Jepang, lebih tinggi dari 110,53 yen pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9600 franc Swiss dari 0,9642 franc Swiss, dan naik tipis menjadi 1,2188 dolar Kanada dari 1.2187 dolar Kanada.

Post Terkait