Investasi Bodong Sering Mengaku Koperasi, Bagaimana Cara Bedakannya?

Beberapa kali terjadi kasus penipuan investasi berkedok koperasi. Terakhir, ada Koperasi Harus Sukses Bersama (Penyertaan Modal) di Jambi dan KSP Pandawa yang ditutup Otoritas Jasa Keuangan (OJK) karena kasus investasi bodong.

Sekretaris Kementerian Koperasi dan UKM, Agus Muharram mengungkapkan, kasus tersebut dilakukan oleh pihak yang bukan koperasi sebenarnya. Nama ‘koperasi’ hanya disematkan di depan untuk menarik minat masyarakat menyimpan uangnya di koperasi bodong tersebut.

“Jadi umumnya yang melakukan itu bukan koperasi yang sebenarnya. Cuma pakai topeng koperasi,” kata Agus saat dihubungi wartawan, Jakarta, Senin (31/7/2017).

Agus menambahkan, sebagian besar kasus yang akhirnya dihentikan tersebut hanya mencatut nama koperasi untuk menjadi nama depan. Namun, di sisi lain ada juga koperasi yang mengalami gagal bayar, tetapi jumlahnya tidak banyak.

“Artinya dia pakai usaha jasa keuangan, karena ada juga yang memang koperasi simpan pinjam terus simpan dana gagal bayar ada. Kalau kasus-kasus itu dia mengatasnamakan koperasi,” tambah Agus.

Ciri-ciri koperasi yang menawarkan investasi bodong mudah dikenali, misalnya ia memberikan pinjaman di luar anggotanya. Padahal sudah tertulis jelas dalam PP Nomor 9 Tahun 1995 bahwa koperasi dilarang memberikan pinjaman selain anggotanya.

“Bahwa koperasi simpan pinjam dilarang himpun dana di luar anggota. Ada siasati cara calon anggota dikasih kesempatan 3 bulan tapi itu tidak dipenuhi sehingga dia himpun terus dana. Biasanya pengurusnya lakukan itu, bahkan tidak sampai terlaporkan dalam laporan tahunannya,” tutur Agus.

Selain itu, koperasi bodong juga mengajak korbannya untuk menyimpan dananya dengan iming-iming keuntungan yang tinggi setiap bulannya. Hal ini yang membuat korban investasi bodong tak kunjung berhenti.

“Masyarakat mengharapkan, harapan selalu gini harapan lebih baik. Sekarang logikanya masa sih ada lembaga yang bisa meminjamkan bunga 10% per bulan? Kan non sense (tak masuk akal),” ujar Agus.

Agus meminta masyarakat untuk lebih waspada terhadap kasus-kasus seperti ini di daerahnya. Sehingga korban-korban penipuan investasi bodong tidak berjatuhan lagi.

“Dia harusnya sudah tahu dan waspada,” kata Agus.

Namun, biasanya masyarakat yang sudah menyimpan dananya dengan janji keuntungan tinggi setiap bulannya menceritakan hal tersebut kepada orang lain. Mereka pada umumnya sudah mendapatkan keuntungan yang dijanjikan di awal masa simpanannya.

“Terus dia umumkan terima simpanan dengan bunga sekian, datanglah 100 orang, terus periode pertama keluarkan bunga yang 10% dapat misalnya 20 orang dulu. 20 cerita lagi ke yang lain, ikut lagi anggota dari mulut ke mulut sehingga terakhir enggak kebagian,” ujar Agus.

Cegah dengan Cara ini

Koperasi bodong merupakan salah satu modus koperasi dalam menjaring dana masyarakat yang biasanya bukan anggotanya dengan iming-iming bunga simpanan tinggi.

Agus mengungkapkan, pihaknya memiliki beberapa jurus untuk mengantisipasi kasus tersebut terulang lagi. Pertama, Kementerian Koperasi dan UKM rutin melakukan sosialisasi kepada masyarakat terkait bunga simpanan koperasi yang tinggi melebihi instrumen investasi lainnya.

“Antisipasinya pertama, melakukan sosialisasi antara lain diberitahu kepada masyarakat untuk waspada kalau koperasi (janji) berikan bunga yang tinggi,” kata Agus.

Selain itu, Kementerian Koperasi dan UKM membentuk Satgas Pengawasan Koperasi. Hingga Maret 2017 Satgas sudah terbentuk sebanyak 1.712, dengan rincian 170 satgas di tingkat provinsi masing-masing 5 orang, dan 1.542 satgas di tingkat kabupaten/kota masing-masing 3 orang.

Namun, jika masyarakat sudah menjadi korban koperasi bodong tersebut bisa langsung melaporkan kepada pihak berwenang untuk ditindaklanjuti.

“Kedua, harus lapor, anggota masyarakat harus lapor. Kalau enggak lapor mana tahu,” tutur Agus.

Banyaknya korban dari koperasi bodong tidak terlepas dari iming-iming keuntungan yang tinggi setiap bulannya. Hal ini yang membuat korban investasi bodong tak kunjung berhenti.

Post Terkait