Ingin Menambang Bitcoin Si ‘Uang Sakti’, Butuh Modal Berapa?

Mata uang virtual, Bitcoin, tahun ini mencatat rekor nilai tukar tertinggi sepanjang masa sebesar US$ 4.909 per keping atau sekitar Rp 60 jutaan. Makin banyak orang tertarik dengan cryptocurrency tersebut.

Ada dua cara untuk mendapatkan Bitcoin. Pertama, membelinya secara langsung di situs yang menyediakan penukaran uang fisik dengan mata uang virtual.

Kedua. dengan cara menambang. Dua cara tersebut sama-sama membutuhkan modal, tinggal pilih saja cara mana yang lebih disukai.

Kalau cara pertama modalnya dipakai untuk membeli Bitcoin, cara kedua modalnya dipakai beli perangkat untuk menambang Bitcoin.

Menurut salah satu penambang Bitcoin, sebut saja namanya Farhan, memberi bocoran kepada detikFinance bagaimana cara menambang Bitcoin dan memberikan keuntungan bersih secara harian.

Menurutnya, ada dua cara menambang Bitcoin, yaitu menggunakan Video Graphics Array (VGA) dan perangkat keras (hardware) bernama nMiner.

“Kalau pakai VGA itu sehari kita bisa dapat untung bersih sekitar Rp 30.000 hingga Rp 80.000. Itu sudah dikurangi biaya listrik ya,” katanya kepada detikFinance, Jumat (8/9/2017).

VGA tersebut bertugas memecahkan algoritma yang bisa memberikan Altcoin yang merupakan turunan dari Bitcoin. Altcoin ini juga bisa dikonversi ke Bitcoin yang memang lebih populer.

Biaya yang harus dikeluarkan untuk membeli jenis VGA khusus ini mulai dari Rp 6-8 juta. Setelah punya VGA khusus itu, Personal Computer (PC) harus dinyalakan 24 jam non stop untuk bisa menambang Bitcoin.

“Kalau sampai (PC) mati, atau misalnya mati lampu, harus mengulang lagi dari awal,” jelasnya.

Mengenai detail cara menambangnya, Farhan mengatakan, saat ini sudah banyak situs yang memberikan informasi mengenai menambang Bitcoin. Bahkan ada juga tutorial video di YouTube.

Sementara cara menambang kedua adalah dengan menggunakan nMiner. Alat yang satu ini harganya cukup mahal dan hanya tersedia di luar negeri.

“Satunya itu sekitar Rp 25 juta, belum ongkos kirim dari luar negeri. Masuk ke sini (Indonesia) masih kena pajak sekitar Rp 10 juta. Kalau ditotal bisa hampir Rp 50 juta untuk beli nMiner,” ungkapnya.

Karena nMiner hanya tersedia di luar negeri, maka pembeli harus menggunakan jasa toko online untuk mendapatkannya. Namun tidak usah khawatir, toko online lokal juga sudah ada yang menyediakan hardware tersebut.

“Kalau pakai VGA paling sehari Rp 80.000, nah kalau pakai nMiner ini bisa sampai Rp 800.000 sehari. Itu bersih setelah dipotong listrik,” katanya.

Wow! Lumayan juga. Tanpa repot-repot bisa dapat tambahan uang dari menambang Bitcoin. Coba kita bandingkan antara VGA dan nMiner.

Kalau pakai VGA modalnya sekitar Rp 8 jutaan. Hasilnya Rp 80.000 sehari, dikali 30 hari totalnya Rp 2,4 juta. Butuh waktu 4 bulanan sampai balik modal.

Sekarang kalau menambang pakai nMiner, modalnya Rp 50 juta. Sehari bisa dapat Rp 800.000, dikali 30 hari berarti Rp 24 juta sebulan. Hanya butuh waktu 2 bulan untuk balik modal dan hasil bulanannya lebih besar.

Pertanyaan selanjutnya adalah, apakah VGA dan nMiner ini ada umurnya? Apakah lama-lama akan rusak dan harus ganti perangkat baru?

“Kalau bicara awet atau tidak sih pasti awet. Hanya saja algoritma yang diberikan Bitcoin itu semakin lama semakin sulit sehingga yang biasanya sehari bisa dapat Rp 800.000 nanti lama-lama jadi berkurang. Kalau hasilnya sudah makin berkurang maka saatnya ganti VGA yang lebih canggih atau nMiner versi terbaru.

Farhan mengatakan, hal ini juga yang pada akhirnya membuat harga VGA dan nMiner selalu naik tinggi. “Kasihan sama gamer, yang butuh VGA baru harganya makin lama makin mahal,” ucapnya.

Nah, anda lebih suka menambang Bitcoin pakai apa, VGA atau nMiner?

Post Terkait