Imbal Hasil Investasi Saham Lampaui SBN, Emas, dan Deposito

Rata-rata tingkat imbal hasil investasi di pasar saham dalam beberapa tahun terakhir masih lebih tinggi dibandingkan produk investasi lainnya seperti surat utang pemerintah atau surat berharga negara (SBN), emas, dan deposito.

Dalam keterangan yang dikutip Bursa Efek Indonesia (BEI), Minggu (18/3), pada periode 2016 hingga 15 Maret 2018, imbal hasil investasi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sudah mencapai 11,59 persen. Adapun rata-rata keuntungan yang didapatkan investor dari investasi produk emas sejak 2014 hingga 15 Maret 2018 sebesar 7,65 persen. Sedangkan imbal hasil surat utang pemerintah di periode yang sama sebesar 7,21 persen, dan keuntungan rata-rata bunga deposito sejak 2014 adalah 6 persen.

Kepala Divisi Komunikasi Perusahaan BEI, Oskar Herliansyah mengatakan, saat ini pasar modal semakin berperan penting terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia. “Pasar modal mampu menjawab kebutuhan investor akan keamanan berinvestasi, dengan modal awal yang terjangkau bagi sebagian besar masyarakat di Indonesia,” kata dia dalam keterangannya, Minggu.

Selain wahana investasi bagi masyarakat, peran pasar modal adalah sebagai sarana bagi perusahaan untuk memperoleh dana dari investor. Caraya, bisa melalui pencatatan perdana saham (initial public offering/IPO), penerbitan saham baru (rights issue), atau penerbitan obligasi.

Adapun obligasi yang diterbitkan di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada pekan ini adalah Obligasi Berkelanjutan II Bank Maybank Indonesia Tahap II Tahun 2018 senilai Rp 645,5 miliar. Dengan pencatatan tersebut, maka total emisi obligasi dan sukuk yang sudah tercatat di sepanjang tahun 2018 adalah 11 emisi dari 10 emiten senilai Rp 21,89 triliun.

Total emisi obligasi dan sukuk yang tercatat di BEI berjumlah 355 emisi dengan nilai nominal outstanding sebesar Rp 402,55 triliun dan US$ 47,5 juta yang diterbitkan oleh 114 emiten. Sebanyak 91 seri Surat Berharga Negara (SBN) telah tercatat di BEI senilai Rp 2.148,26 triliun dan US$ 200 juta, serta 10 emisi Efek Beragun Aset senilai Rp 9,93 triliun.

Post Terkait