Hasil Poling: 87% Tak Setuju Isi Ulang e-Money Kena Biaya

Penggunaan uang elektronik merupakan bagian dari Gerakan Nasional Non Tunai (GNNT). Tujuannya untuk meningkatkan penggunaan uang elektronik berbagai kebutuhan transaksi.

Dalam praktiknya, penggunaan elektronik atau e-money telah dimanfaatkan untuk penyaluran bantuan sosial, transaksi di gerbang tol hingga pembayaran angkutan umum seperti KRL dan TransJakarta.

Nah, Bank Indonesia (BI) berencana mengenakan biaya transaksi untuk setiap isi ulang alias top-up uang elektronik. Besarannya sekitar Rp 1.500-Rp 2.000.

detikFinance membuat poling terkait rencana BI tersebut. Poling berlangsung sejak Jumat (15/9/2017) hingga Sabtu (16/9/2017) pukul 09.00 WIB.

Apa hasilnya? Dari total 10.681 peserta poling, 87% tidak setuju isi ulang uang elektronik dikenai biaya. Sedangkan 5% sisanya setuju dan 8% tidak tahu.

Post Terkait