Harga Minyak Kembali Turun, Diserang Kenaikan Produksi Minyak AS

Harga minyak mentah kembali mengalami penurunan karena aktivitas pengeboran yang meningkat di Amerika Serikat menunjukkan output yang lebih tinggi di masa depan. Pembatasan output yang dipimpin oleh OPEC dan Rusia masih menjadi sentimen utama yang mampu menahan penurunan minyak mentah.

Harga minyak mentah Brent LCOc1, patokan internasional untuk harga minyak, turun 15 sen atau 0,2% dan berada di USD69,72 per barel. Sementara minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) turun 3 sen dan berada di USD64,27 per barel.

Baik Brent dan WTI pekan lalu mencapai level level tertinggi sejak Desember 2014, setelah penurunan tajam harga minyak. Bank ANZ mengatakan harga minyak baru-baru ini meningkat didukung data yang terus menunjukkan pasar semakin ketat. Meskipun kenaikan harga yang tajam sejak Desember, beberapa analis telah memperingatkan adanya koreksi ke bawah.

Penurunan harga minyak tidak terlepas dari penambahan 10 rig minyak dalam minggu ini oleh beberapa perusahaan AS dengan total 752. Itu adalah kenaikan rig terbesar sejak Juni 2017.

Gambarannya serupa di Kanada, di mana perusahaan energi hampir melipatgandakan jumlah pengeboran rig minyak minggu lalu menjadi 185, tingkat tertinggi dalam 10 bulan.

Tingginya harga minyak mentah, yang merupakan bahan baku terpenting dalam industri perminyakan, juga telah mengurangi margin keuntungan untuk penyuling minyak, yang mengakibatkan penurunan pesanan minyak mentah baru.

Secara keseluruhan, pasar minyak telah membaik seiring dengan pemotongan produksi yang dipimpin oleh Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan Rusia yang bertujuan untuk menopang harga minyak mentah.

Pemotongan dimulai pada Januari tahun lalu dan diperkirakan akan berlanjut hingga 2018, dan bertepatan dengan pertumbuhan permintaan yang sehat, mendorong harga minyak mentah lebih dari 13% sejak awal Desember.

Post Terkait